Perekonomian Tiongkok sedang lesu dan berdampak besar pada kaum muda. Mereka sedang menghadapi salah satu pasar kerja terberat dalam hampir setahun. Hari Selasa, Biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan tingkat pengangguran kaum muda pada bulan Juli naik menjadi hampir 18%, tertinggi sejak Agustus lalu. Ini berarti hampir satu dari lima anak muda Tiongkok yang menganggur. Meskipun begitu, keakuratan angka ini tetap dipertanyakan.
[Frank Tian Xie, Profesor Marketing Universitas South Carolina Aiken]:
“Pertama-tama, Anda tahu, Anda tidak akan pernah bisa mempercayai angka-angka pemerintah komunis Tiongkok, yaitu statistik. Mereka telah dikenal secara sistematis memanipulasi atau bahkan mengarang statistik.”
Data pengangguran kaum muda menargetkan usia 16 hingga 24 tahun yang secara aktif mencari pekerjaan. Musim panas ini lebih dari 12 juta lulusan baru memasuki pasar tenaga kerja Tiongkok.
[Frank Tian Xie, Profesor Marketing Universitas South Carolina Aiken]:
“Sebenarnya, Anda tahu, ada beberapa cendekiawan Tiongkok. Ada satu cendekiawan terkemuka yang, saya rasa sekitar tahun lalu, melakukan perhitungannya sendiri dan menghasilkan angka pengangguran kaum muda sebesar 47%. Saya pikir angka itu mendekati, jauh lebih mendekati kenyataan. Jadi, angka 17% itu jauh dari kenyataan.”
Zhang Dandan adalah seorang ahli ekonom tenaga kerja Tiongkok dan asisten profesor di Universitas Peking. Maret lalu, ia memperkirakan bahwa tingkat pengangguran kaum muda Tiongkok sekitar 47%, jauh lebih tinggi dari angka resmi, yaitu sekitar 20%.
Para kritikus dan ekonom Tiongkok mengatakan metode penghitungan pengangguran Tiongkok hampir tidak mencerminkan gambaran yang utuh karena mengecualikan sebagian besar populasi. Data pengangguran kaum muda hanya mencakup wilayah perkotaan. Rezim Tiongkok juga berkuasa atas data resmi. Tahun 2023, pihak berwenang tiba-tiba menghentikan rilis data dari Juli hingga November.
Namun bagi kaum muda, ada lagi tantangan yang lebih besar.
[Frank Tian Xie, Profesor Marketing Universitas South Carolina Aiken]:
“Motivasi utama pemerintah untuk mendorong AI adalah penerapannya dalam penggunaan militer, sistem persenjataan, dan sebagainya. Jadi, mereka bisa mengejar ketertinggalan dari AS dalam teknologi militer. Di sisi lain, penerapan AI oleh perusahaan Tiongkok yang lebih luas pasti akan semakin merugikan pasar kerja. Hal ini membuatnya semakin rumit.”
Hampir 4 juta orang mendaftar untuk ujian masuk gelar Master tahun ini, berharap mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Namun, dengan Tiongkok berfokus pada persaingan AI dengan AS, banyak perusahaan telah mulai menggunakan AI untuk menggantikan manusia, seperti di penterjemahan, perbankan, dan penjualan. Para analis berkata ini dapat menyakiti tenaga kerja Tiongkok yang berpendidikan tinggi.
