Fokus

Gelombang Baru Kasus Virus di Tiongkok

Provinsi-provinsi di seluruh Tiongkok kembali menguji penduduk secara massal.

Itu, setelah anggota-anggota grup wisata dinyatakan positif terkena virus PKT.

Menurut outlet media besar Tiongkok, setidaknya 10 provinsi terlibat.

Satu pasangan dalam kelompok tersebut pertama kali dinyatakan positif, dan kemudian semua anggota kelompok, belakangan dinyatakan positif.

Otoritas mengumumkan rute perjalanan mereka, dan pejabat lokal di sepanjang rute mulai melakukan pengujian massal.

Mereka meminta orang-orang untuk melaporkan diri mereka sendiri, jika ada kemungkinan mereka bisa melakukan kontak dengan kelompok tersebut.

Menurut media Tiongkok, tempat wisata yang mereka kunjungi untuk sementara ditutup.

Sekolah dan beberapa layanan publik serta bisnis, juga ditutup.

Pengujian sejauh ini menemukan lebih dari 40 kasus positif, beberapa di antaranya, di distrik pinggiran kota Beijing.

Meski, NTD tidak dapat memverifikasi angka-angka ini secara independen.

Menurut CDC Tiongkok, kasus virus PKT lokal yang dikonfirmasi pada hari Rabu, hampir dua kali lipat jumlahnya dari hari sebelumnya.

Seorang gadis dari provinsi Henan, Tiongkok Tengah, meninggal setelah mendapatkan vaksin COVID-19 buatan Tiongkok.

Ibunya kemudian dipukuli dan ditahan, setelah meminta otoritas setempat untuk menyelidiki kematian putrinya dan mencari keadilan di Beijing.

Jiang Yanhong adalah seorang Ibu tunggal dari Provinsi Henan.

Dia mengatakan kepada The Epoch Times bahwa putrinya yang berusia 12 tahun, Li Boyi, mendapat vaksin COVID-19 buatan Tiongkok pada pertengahan Agustus.

Dua hari kemudian, anak itu mulai menderita demam tinggi dan selusin komplikasi, dan meninggal pada akhir Agustus (28 Agt).

Sang ibu dilaporkan memperbarui akun media sosial Tiongkok-nya setiap hari sejak akhir September, mendokumentasikan jumlah hari yang telah berlalu sejak putrinya meninggal.

Jiang pergi ke otoritas setempat, meminta penyelidikan atas kasus ini, tapi tidak ada yang mau berbicara dengannya.

Kemudian, dia pergi ke Komisi Kesehatan Kabupaten, tapi sekelompok pria di sana mendorongnya ke tanah, dan memukulinya selama sekitar 40 menit.

Dia mengunggah video penyerangan itu ke situs media sosial Tiongkok, Weibo, lalu akunnya diblokir, dan dia tidak dapat memperbarui informasi apa pun di sana.

Menurut laporan situs web Tiongkok, Jiang telah ditahan sejak pertengahan Oktober.

Itu setelah dia pergi ke Beijing untuk mengajukan petisi, untuk kasus ini.

Otoritas menuduhnya memprovokasi masalah.

Bahkan saudari perempuannya, yang pergi ke Beijing bersamanya, ditahan.

Selama bertahun-tahun, keluarga korban vaksin di Tiongkok telah membela hak-hak mereka dan mencari keadilan.

Yang Wenjuan adalah salah satunya.

Putranya mendapat vaksin DPT buatan Tiongkok pada 2008, saat ia berusia tiga bulan.

Kemudian dia mengalami reaksi alergi yang serius dan menjadi bisu.

Bahkan sekarang, dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri.

Yang berkata, dia ditahan selama 7 hari karena membela hak putranya.

Yang: “Saya ditahan karena apa yang disebut kejahatan memprovokasi masalah. Saya menggantung spanduk di jendela rumah saya. Mereka menangkap saya pada hari yang sama, dan menahan saya selama 7 hari. Polisi mengatakan kepada saya dengan kejam, bahwa jika saya melakukannya lagi, mereka akan menggandakan hukumannya. Polisi di Tiongkok telah menjadi gangster.”

Seorang pengamat insiden vaksin dari Provinsi Hunan, mengatakan bahwa dengan menahan anggota keluarga yang mengajukan petisi bagi korban vaksin, otoritas ingin memberi contoh bagi pembela hak lainnya.

Pengamat insiden vaksin: “Kecelakaan vaksin semakin sering terjadi. Jika otoritas tidak menekan masalah ini, mereka takut itu akan menjadi lebih merepotkan, ketika korban menindaklanjutinya, menuntut ganti rugi, atau meminta pertanggungjawaban, sehingga mereka tidak berani mengakui kesalahannya, mereka ingin menghukum pembela HAM sebagai contoh, untuk mengintimidasi korban-korban lainnya.”

Selama bertahun-tahun, vaksin Tiongkok telah terlibat dalam skandal karena masalah kualitas.

Banyak negara sekarang tidak mengakui vaksin Tiongkok untuk mandat vaksin mereka, terkait masalah kualitas.

Sebuah komunitas Tionghoa di Italia meminta otoritas untuk mengubah aturan skema izin kesehatan COVID-19 wajib negara itu, yang tidak mengakui vaksin Tiongkok.

‘Green Pass’ wajib di tempat kerja Italia mulai 15 Oktober.

Tapi banyak di antara 50 ribu komunitas Tionghoa di kota Prato, menerima vaksin Sinovac di Tiongkok, yang tidak memenuhi syarat untuk ‘Green Pass’.

Kepala komunitas Tionghoa Prato, yang tumbuh di sekitar industri tekstil lokal, telah menulis surat kepada otoritas, meminta untuk mengubah aturan tersebut.

Tapi vaksin yang saat ini diakui oleh Italia untuk keperluan Green Pass, adalah Pfizer, Moderna, Johnson & Johnson dan AstraZeneca.

Dan Perdana Menteri Italia, Mario Draghi, secara pribadi telah menyatakan skeptisisme tentang Sinovac, mengatakan “itu telah menunjukkan dirinya tidak memadai”.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI