Site icon NTD Indonesia

Hari Falun Dafa Sedunia: Kemeriahan di Tebet Eco Park

Sebuah perayaan unik di Tebet Eco Park Jakarta, pada hari Minggu, 18 Mei 2026. Puluhan praktisi Falun Dafa berkumpul dan mengadakan latihan bersama dalam gerakan yang lembut perlahan, dalam rangka memperingati Hari Falun Dafa Sedunia yang jatuh pada 13 Mei lalu.

Latihan Falun Dafa atau Falun Gong pertama kali diperkenalkan oleh Master Li Hongzhi di China pada tahun 1992 dan dengan cepat menyebar ke seluruh negeri. Latihan Qigong ini terdiri dari empat gerakan berdiri serta meditasi yang mengolah raga, serta menuntut praktisinya untuk menerapkan sejati-baik-sabar dalam kehidupan sehari-hari sebagai kultivasi jiwa.  

Salah seorang praktisi Falun Gong bernama Laksmi bertemu dengan latihan ini di tahun 2004 di saat kondisi tubuhnya menderita beragam penyakit.

[Laksmini, Praktisi Falun Dafa]:

“Saya punya maag kronis, asma dan sebagainya. Mungkin stress lah gitu. Karena saya suka pingsan mendadak, terus suka hilang ingatan pokoknya kalo ditanya orang suka lupa. Akhirnya pembina saya cuma bilang satu, ibu latihan mengalir, tidak ada maksud dan tujuan. Saya bingung… lha kan saya punya maksud. Supaya sembuh. Tapi kok begitu? Akhirnya saya ya latihan aja. Terus saya coba. Begitu saya coba.. akhirnya mengalir… dan ikutin apa arahan pembina, akhirnya kok saya punya maag itu nggak saya rasakan (lagi), tahu-tahu kok ilang ya. Ini yang saya biasanya suka lupa mendadak, ilang, tahu-tahu ditanya orang hah? Hoh?.. plang plong plang plong kok… nggak jadi, nggak ada lagi, gitu. Terus saya lebih sabar, oo rupanya ini yang dimaksud tidak bermaksud dan bertujuan.”

Praktisi lain bernama Wiwik bertemu Falun Dafa secara online di tahun 2020. Saat itu ia menderita penyakit yang tidak dapat didiagnosa oleh dokter dan harus mengonsumsi obat pereda nyeri secara rutin.

[Wiwik, Praktisi Falun Dafa]:

“Bisa dikatakan 70% tidak bisa beraktivitas seperti layaknya orang normal.  Mungkin yang menyebabkan saya sakit itu penuh kepahitan, gitu. Karena memang ada beberapa kejadian salah satunya waktu sebelum saya sakit itu ada kekerasan, gitu.”

Wiwik pun berusaha mencari pengobatan alternatif melalui meditasi dan mencari informasi melalui internet, yang mempertemukannya dengan website Falun Dafa.

[Wiwik, Praktisi Falun Dafa]:

“Nah disitu disertakan juga link nya, falundafa.org.id. Yaudah langsung saya klik, disitu saya lihat ada video peragaan latihan.”

Setelah berlatih, Wiwik merasakan perubahan signifikan pada tubuhnya dan ia kembali merasa bugar serta mampu beraktivitas secara normal. Ia juga mulai membaca buku bimbingan Falun Dafa, Zhuan Falun.

[Wiwik, Praktisi Falun Dafa]:

Pertama kali saya baca, dan beberapa kali itu kayak nampar saya, jadi semua pertanyaan saya sebelum saya bertemu Falun Dafa dan sampai akhirnya saya sakit itu, itu kok kayak ngobrol sama saya, ini buku gitu, ngobrol, kok semuanya terjawab, kenapa ada kekerasan.”

Perayaan dimeriahkan dengan penampilan genderang pinggang, sebuah alat musik tabuh tradisional yang berasal dari China.

Lagu “Falun Dafa Baik” yang dibawakan oleh penyanyi Sastrani juga menghidupkan suasana, menutup perayaan hari Falun Dafa sedunia sekaligus menggemakan harapan para praktisinya agar penganiayaan Falun Dafa di daratan China segera berakhir.

NTD News melaporkan dari Tebet Eco Park, Jakarta.