Fokus

Hong Kong di Tahap ke-8 dari 10 Tahapan Genosida?

6 Okt, Polisi Tangkapi Demonstran Bermasker (Foto: Anthony Kwan/Getty Images)
6 Okt, Polisi Tangkapi Demonstran Bermasker (Foto: Anthony Kwan/Getty Images)

Di hari kedua (6 Oktober) pasca pemberlakuan “Larangan bertopeng/bermasker” oleh Pemerintah Hong Kong yang mengutip dari “Hukum Darurat”, di bawah hujan lebat, ribuan warga Hong Kong turun ke jalan ambil bagian dalam kegiatan protes. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti “orang-orang Hongkong, protes!” dan “bertopeng tidak bersalah, berjuang melawan dengan rasional!”

Associated Press melaporkan, pengadilan tinggi Hong Kong telah menolak permohonan kedua untuk menganulir hukum pelarangan penggunaan topeng/masker yang mulai efektif berlaku sejak 5 Oktober itu. Namun menurut legislator Dennis Kwok, pengadilan bersedia mendengar permohonan 24 legislator di bulan Oktober, terhadap Carrie Lam yang menggunakan kekuasaan darurat memaksakan larangan itu tanpa persetujuan legislatif.

Patricia Anyeung, seorang warga pensiunan Hong Kong yang ikut dalam parade hari itu mengatakan pada Associated Press bahwa, “Carrie Lam bukan dewa Hong Kong, ia tidak bisa bertindak semena-mena sekehendak hatinya.”

Patricia keluar bersama saudara perempuannya Rebecca, dan keduanya memakai topeng. Ia berkata, “Mereka tidak dapat menangkap kita semua. Kita puluhan ribuan orang. Kita sudah tidak punya jalan kembali.”

South China Morning Post juga melaporkan bahwa demonstrasi di Hong Kong didukung oleh para lansia, yang bergabung dalam kelompok sukarelawan “Lindungi Anak-anak”. Dengan rompi kuning bertuliskan slogan yang sama, mereka maju ke garis depan, berusaha melindungi anak-anak muda lainnya dari kebrutalan polisi.

Salah satu dari lansia tersebut sering dipanggil ‘Kakek Wong’. Berhadapan dengan barisan polisi yang garang, ia bahkan membungkukkan badannya berkali-kali, berkata, “mereka hanya menginginkan demokrasi, mereka tidak minta uang, mereka tidak membunuh juga tidak membakar.”

Kakek Wong, yang sudah berumur 82 tahun bahkan berkata, “Saya belum pernah melihat begitu banyak yang menangkapi anak-anak. Tentara kekaisaran Jepang pun tidak menangkapi begitu banyak anak!”

Kakek Wong melindungi para demonstran Hong Kong dari polisi bersama sukarelawan “rambut abu-abu” manula lainnya di distrik Tung Chung, Hong Kong, pada 7 September 2019. (Foto: Vivek Prakash/AFP via Getty Images)

Dalam satu bulan terakhir, kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi di Hong Kong telah meningkat dengan sangat cepat. Veby Mega Indah, wartawati harian “Suara Hong Kong” asal Indonesia yang sedang meliput di lokasi, terkena tembakan peluru karet yang ditembakkan polisi Hong Kong hingga menyebabkan kebutaan permanen. Setelah itu, berturut-turut dua siswa Hong Kong, berumur 16 tahun dan 14 tahun, ditembak dengan peluru asli dari jarak dekat oleh polisi Hong Kong.

Mengomentari kondisi di Hong Kong, seorang warganet bahkan memposting di laman Facebook miliknya bahwa keadaan Hong Kong saat ini sudah berada pada tahapan ke-8 dari “10 tahapan genosida” tulisan sarjana Gregory Stanton. Adapun ke-sepuluh tahapan tersebut adalah:

  1. Klasifikasi : Penindas menganiaya orang berdasarkan ras, etnis, agama dan kebangsaan, menganggap yang ditindas sebagai jenis yang ‘berbeda’.
  2. Simbolisasi: Memberikan label atau sebutan diskriminatif agar yang teraniaya dikucilkan dari publik.
  3. Diskriminasi: Mengarahkan masyarakat mendiskrimasikan kelompok tertentu melalui kebijakan dan kampanye media.
  4. Dehumanisasi: Merendahkan martabat yang dianiaya sebagai objek tidak manusiawi, dilukiskan seperti wabah penyakit, melalui propaganda kebencian skala besar.
  5. Mengorganisir: Mendorong masyarakat sipil menganiaya target dengan terencana dan teratur.
  6. Polarisasi: Kelompok dipecah menjadi dua kutub yang berlawanan, melalui propaganda atau cara lain, mengintimidasi kelompok sentris dan mediator.
  7. Persiapan: Menemukan dan mengisolasi beberapa korban berdasarkan rasa tau kepercayaan berbeda.
  8. Penganiayaan: Diprakarsai oleh negara, bisa menggunakan angkatan bersenjata atau operasi penganiayaan skala besar seperti penangkapan, pemukulan, penyiksaan, bahkan pembunuhan.
  9. Pembasmian: Merampas besar-besaran kondisi hidup mendasar dari kelompok yang dianiaya, bahkan melalui pembunuhan massal secara langsung.
  10. Menyangkal: Menghancurkan bukti pembunuhan massal dengan mengubur atau membakar mayat. Menyangkal keseluruhan proses pelaksanaan strategi genosida dengan “tidak melakukan kejahatan”. Penyangkalan itu sendiri menyiratkan pembantaian serupa akan berulang.

Warganet tersebut berkomentar bahwa Hong Kong kini berada dalam tahap “penganiayaan”. Hanya tinggal masalah waktu sebelum kondisi maju ke tahap berikutnya, yaitu “pembasmian”.

Namun para demonstran Hong Kong dalam sebuah konferensi pers di tanggal 2 Oktober telah menyatakan, tekad mereka sudah sekuat baja. Mereka berkata: “hati yang mendapatkan kebebasan tidak akan mati, tidak akan mundur bahkan dengan ancaman kematian”. (ntdtv/crl/lia)