Fokus

Hubungan Dekat Swiss dengan Rezim Komunis Tiongkok

Di tengah pandemi virus PKT, negara-negara di seluruh dunia sedang meninjau kembali hubungan mereka dengan Tiongkok. Kali ini, kita akan melihat Swiss.

Negara penuh gunung tinggi yang kaya ini selalu dekat dengan Tiongkok.

Setelah rezim komunis merebut kendali di Tiongkok daratan, Swiss adalah salah satu negara Barat pertama yang mengakui kekuasaannya.

Swiss memutuskan hubungan dengan Taiwan tiga hari kemudian.

Mempertahankan persahabatan dengan rezim komunis bisa menjadi jalan yang baik untuk dilalui.

Namun pada tahun 1999, sebuah insiden diplomatik menunjukkan betapa rapuhnya hubungan itu.

Swiss adalah salah satu negara dengan komunitas Tibet terbesar di Eropa.

Pada tahun 1999, ketika pemimpin Tiongkok saat itu, Jiang Zemin mengunjungi Parlemen Swiss, para pengunjuk rasa di dekatnya mengangkat spanduk “Bebaskan Tibet” dan menyoraki Jiang.

Polisi Swiss melindungi delegasi Tiongkok, tetapi tidak membungkam para demonstran.

Jiang terkejut melihat para pengunjuk rasa, dan geram dengan tuan rumah di situ.

Dalam pidatonya, Jiang mengatakan kepada anggota parlemen Swiss bahwa, “Swiss telah kehilangan seorang teman.”

Media melaporkan bahwa presiden Swiss, Ruth Dreifuss mencoba beberapa kali untuk menenangkan Jiang, namun situasinya menjadi tegang lagi saat jamuan makan malam negara.

Ketika Dreifuss mengemukakan masalah HAM di Tiongkok, Jiang menjadi marah dan hampir meninggalkan meja.

Hari ini, Tiongkok adalah mitra dagang terbesar ketiga Swiss.

Tiongkok juga adalah salah satu pasar terpenting bagi perusahaan-perusahaan Swiss.

Swiss adalah negara di benua Eropa pertama yang menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Tiongkok.

Pada 2017, pemimpin Tiongkok Xi Jinping tiba untuk kunjungan kenegaraan.

Berbeda dengan kunjungan tahun 1999, para demonstran Tibet dilarang melakukan protes di depan Parlemen, di mana para delegasi Tiongkok akan dapat melihat mereka.

Para demonstran diberi batas dua jam.

Polisi menangkap lebih dari 30 demonstran ketika mereka meneriakkan “bebaskan Tibet” dan “jangan berurusan dengan para pembunuh.”

Demonstran: “BEBASKAN TIBET! BEBASKAN TIBET! TIONGKOK MEMALUKAN! TIONGKOK MEMALUKAN!”

Para demonstran mengeluh bahwa pemerintahan Swiss lebih mengutamakan sebuah rejim totaliter, daripada warganya sendiri.

Migmar Dhakyel, anggota Asosiasi Pemuda Tibet: “Sebagai warga negara Swiss, kami sangat prihatin, bagaimana pemerintah kami, pemerintah kami sendiri memperlakukan kami, tidak mengizinkan kami untuk berdemonstrasi, dan berdagang dengan suatu kediktatoran seperti Tiongkok.”

Presiden komunitas Tibet di Swiss kemudian mengatakan bahwa pejabat Swiss meminta mereka untuk mencabut pengajuan mereka, untuk sebuah izin kegiatan.

Para jurnalis bertanya kepada para pejabat, apakah Swiss telah bersujud ke Tiongkok, khususnya dengan penghormatan atas hak asasi manusia.

Seorang menteri menjawab, “Kita tidak bisa menyelesaikan semuanya dengan segera.

Anda harus mendapatkan kepercayaan selama beberapa tahun.

Anda harus berbicara dengan jelas dan inilah yang telah kita lakukan, namun Anda harus mengakui bahwa kita tidak dapat mengharapkan kesuksesan dalam semalam.”

Swiss telah mencatat lebih dari 30 ribu kasus infeksi, dan lebih dari 1.800 kematian akibat virus PKT.

Lebih banyak berita tentang wabah pneumonia akibat infeksi COVID-19 dari Wuhan, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.