China meluncurkan ID internet baru yang bersifat sukarela untuk saat ini, berkata hal itu akan menawarkan keamanan yang lebih bagi warganya. Namun beberapa ahli berkata sistem tersentralisasi ini justru akan membuatnya menjadi target yang mudah untuk diretas.
Di China, pemeriksaan identitas wajib telah membuat hampir mustahil untuk tetap anonim di internet. Namun, Partai Komunis China telah membuatnya semakin sulit. Rezim itu membuat proses yang lebih tersentralisasi dengan menerbitkan ID virtual untuk masuk ke berbagai aplikasi media sosial, bukannya pemeriksaan terpisah untuk setiap platform.
Para ahli khawatir sistem baru itu akan mengikis kebebasan berekspresi yang sudah terbatas, dengan memberikan lebih banyak kendali kepada negara. Selain itu, pemusatan informasi dapat membuat pelanggaran keamanan lebih merusak.
Hao Chen Sun, seorang profesor hukum di Universitas Hong Kong, berkata platform nasional yang tersentralisasi secara inheren menciptakan satu titik kerentanan, yang menjadikannya target yang menarik bagi para peretas atau musuh asing.
Pelanggaran data pemerintah terjadi di seluruh dunia. Satu insiden di China melibatkan basis data polisi yang berisi informasi pribadi 1 miliar warga negara, bocor pada 2022.
Sun juga berkata walaupun sistem masih sukarela, ini dapat secara bertahap berkembang menjadi sistem yang sulit bagi pengguna untuk tidak ikut serta. Ia berkata, “jika pemerintah ingin mempromosikan sistem verifikasi ID internet ini, mereka dapat melakukannya dengan berbagai pengaturan, pada dasarnya mendorong orang untuk menggunakannya dan menawarkan lebih banyak kemudahan sebagai imbalannya.”
