Setelah sempat tidak terikat kontrak dengan merek mana pun, Senin lalu, Bintang NBA ,Stephen Curry resmi menandatangani kontrak 10 tahun dengan merek pakaian olahraga asal China, Li-Ning. Kemitraan ini sontak menuai kritik pasalnya perusahaan itu dituduh menggunakan tenaga kerja paksa dalam produksinya dan kini tengah diselidiki bea cukai AS. Keputusan ini diambil setelah Curry mengakhiri kontrak 13 tahun dengan produsen AS, Under Armour, menambah daftar panjang bintang NBA yang merapat ke produsen China. Berikut komentar mantan pemain NBA Enes Kanter Freedom yang juga seorang aktivis HAM.
[Enes Kanter Freedom, Mantan Pemain NBA, Aktivis HAM] :
“Saat ini saya rasa ada sekitar 30 orang pemain NBA yang menjalin kontrak dengan merek sepatu asal China. Dan bagi saya, ini menyedihkan. Dia, Stephen Curry adalah salah satu bintang yang punya jutaan pengikut. Saya ingat pada tahun 2020, para pemain NBA begitu lantang menyuarakan berbagai problem sosial yang terjadi di Amerika. Namun kini, saya melihat kemunafikan. Mereka semua rela menerima komisi ratusan juta dolar dari perusahaan sepatu yang menggunakan tenaga kerja paksa. Harus ada yang berani menyuarakan hal ini.”
Bagi sebagian kritikus, keputusan Curry semakin mempertegas kontradiksi di tubuh NBA. Liga basket ini dikenal sangat vokal terhadap isu-isu sosial setempat, namun bungkam saat bicara soal pelanggaran HAM di China.
[Enes Kanter Freedom, Mantan Pemain NBA, Aktivis HAM] :
“Para pemain ini dibayar jutaan dolar untuk menceramahi kita tentang masalah di Amerika. Namun Ketika itu menyangkut China, mendadak mereka terdiam. Mengkritik Amerika tidak akan mengancam isi kantong uang atau bisnis mereka, itulah mengapa mereka tidak peduli.”
Dengan basis 450 juta penggemar, China tetap merupakan pasar yang penting bagi NBA, jeratan finansial ini pun akan semakin erat seiring banyaknya pemain yang menjalin kemitraan dengan perusahaan-China.

