Kabar terbaru dari provinsi Sichuan barat daya China. Polisi telah menangkap seorang mantan jurnalis investigasi dan konten creator setelah ia mengunggah laporan seputar korupsi oleh pejabat setempat. Berdasarkan keterangan polisi, ia dituduh melakukan pencemaran nama baik dan operasi bisnis ilegal. Tuduhan semacam ini sering kali digunakan pihak otoritas China untuk menyasar para pembangkang. LSM internasional Reporters Without Borders mengatakan bahwa jumlah jurnalis yang dipenjara di China jauh melampaui negara mana pun, dengan total 121 orang pada 2025.
Beralih ke Shanghai, Zhang Xiaoqiao telah memperjuangkan keadilan bagi mendiang ibu mertuanya selama hampir satu dekade. Ibu mertua Zhang, yang berusia 90 tahun lebih, meninggal 9 tahun lalu secara misterius saat berada dalam tahanan rumah di sebuah fasilitas pemerintah. Hingga kini, keluarganya tidak diizinkan untuk melihat jenazahnya meski telah mengajukan permohonan berulang kali.
Pada 2005, otoritas secara paksa membongkar rumah ibu mertua Zhang dan membangun hotel di atas lahan tersebut yang dilaporkan meraih keuntungan besar. Menurut Zhang, ibu mertuanya telah berada di bawah tahanan rumah selama lebih dari 12 tahun sebelum meninggal. Zhang berkata akan terus memperjuangkan keadilan bagi sang ibu.
Beralih ke kasus lain di China. Setelah empat tahun mendekam dalam penjara, pria asal Hunan yang dijatuhi hukuman 7,5 tahun sejak 2022 akhirnya diketahui keberadaannya oleh pihak keluarga. Hukuman tersebut dijatuhkan setelah ia mendirikan kelompok pro-demokrasi dan mengajak rakyat China untuk Bersatu menentang sistem satu partai. Ia dilaporkan tengah menjalani tahanan sel di sebuah penjara di provinsi Sichuan.
