Pemerintah Jepang baru saja menyetujui rencana anggaran pertahanan tahun fiskal mendatang yang menembus angka 58 miliar Dolar AS, memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata untuk meningkatkan kemampuan pertahanan nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan China.
Strategi ini sejalan dengan pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November lalu yang menegaskan kemungkinan keterlibatan militer Jepang jika China mengambil langkah agresif terhadap Taiwan. Peningkatan belanja ini menandai tahun keempat dalam program lima tahun Jepang untuk melipatgandakan pengeluaran pertahanan hingga mencapai 2% dari PDB.
Menariknya, di bawah dorongan dari Amerika Serikat, Jepang berkomitmen untuk mencapai target 2% tersebut dua tahun lebih awal dari jadwal semula. Selain itu, Jepang berencana merevisi kebijakan keamanan dan pertahanannya pada Desember 2026 guna memperkuat militer secara menyeluruh.
Dalam rencana strategi keamanan, China dinyatakan sebagai tantangan strategis terbesar bagi Jepang. Dokumen tersebut juga menyerukan peran yang lebih ofensif bagi pasukan bela diri Jepang dalam kerangka aliansi keamanan bersama Amerika Serikat.

