Fokus

Kapal Induk Tiongkok ke Selat Taiwan, Menlu Taiwan: “RRT Berusaha Mencampuri Pemilu Taiwan”

Kapal Induk Tiongkok (Foto: AFP via Getty Images)
Kapal Induk Tiongkok (Foto: AFP via Getty Images)

Menjelang pemilihan umum Taiwan 2020, Partai Komunis Tiongkok mengirim sebuah kapal induk ke perairan Selat Taiwan pada hari Minggu, 17 November lalu.

The Telegraph melaporkan, kapal induk raksasa tersebut, yang merupakan kapal induk produksi dalam negri pertama Tiongkok, diikuti oleh beberapa kapal kecil, menyusuri perbatasan daerah perairan Tiongkok dan Taiwan. Departemen Pertahanan Taiwan mengirim kapal dan jet untuk mengawasi kapal induk tersebut, memastikan kapal tersebut tetap berada di jalur perairan milik Tiongkok.

Joseph Wu, Mentri Luar Negri Taiwan mengecam tindakan pengiriman kapal induk ini di Twitter, dan berkata bahwa pelayaran itu terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengumumkan bahwa William Lai akan menjadi pasangan Tsai dalam pemilihan presiden Taiwan 2020.

Joseph Wu berkata, tindakan ini merupakan wujud nyata dari Partai Komunis Tiongkok yang ingin ikut campur dalam pemilu Taiwan, dan ia tidak akan terintimidasi oleh hal ini.

William Lai merupakan mantan perdana mentri Taiwan, dan pernah membuat marah Beijing tahun lalu atas keberaniannya mendukung kemerdekaan Taiwan. Pada April tahun lalu, Lai memberitahu parlemen bahwa ia adalah seorang ‘pejuang kemerdekaan Taiwan’. Atas pernyataannya ini, ia sempat membuat media Daratan Tiongkok Global Times meminta Beijing “menangkap Lai” atas tuduhan separatis, seperti dilansir dari South China Morning Post.

Setelah menerima nominasi dari Tsai, Reuters melaporkan bahwa William Lai sendiri tidak menyinggung soal kemerdekaan Taiwan, namun ia berkata Taiwan harus berdiri melawan tekanan dari Partai Komunis Tiongkok, dan “menunjukkan jalan” bagi Hong Kong yang sedang mengalami protes berbulan-bulan.

“Saya memutuskan untuk menerima undangan Presiden Tsai menjadi wakilnya, bersama-sama berjuang untuk pemilu dalam waktu tergelap ini untuk menyatukan dan mempertahankan Taiwan, untuk terus menunjukkan cahaya demokrasi, menunjukkan jalan bagi Hong Kong dan menerangi dunia,” kata Lai.

Partai Komunis Tiongkok telah lama berambisi untuk menguasai Taiwan, sebuah pulau demokrasi yang memiliki mata uang, militer, pemerintah dan pemilihan umumnya sendiri. Dengan alasan ingin mempersatukan “satu Tiongkok”, Partai Komunis Tiongkok berusaha membujuk Taiwan bergabung di bawah “satu negara dua sistem” seperti sistem yang diberlakukan di Hong Kong, namun banyak warga Taiwan yang pesimis. Dalam Hari Nasional Taiwan 10 Oktober lalu, Tsai bahkan terang-terangan menolak sistem ini dan berkata bahwa kekacauan di Hong Kong telah menunjukkan “kegagalan satu negara dua sistem” milik Beijing. (ntdindonesia/lia)