Fokus

Kapal-kapal China Tunggu Perizinan Lintasi Selat Hormuz

Semua mata tertuju pada gencatan senjata Iran, apakah kesepakatan dua minggu ini akan bertahan atau runtuh? Sementara kapal-kapal berbaris menunggu melanjutkan transit yang tertunda melalui Selat Hormuz. Diantaranya adalah kapal-kapal rezim komunis China yang ternyata tidak menerima perlakuan khusus.

Setelah sempat membuka kembali Selat Hormuz, Iran mengatakan akan memblokirnya kembali, dengan alasan ketegangan yang sedang berlangsung antara Israel dan Lebanon. Namun Gedung Putih berkata Lebanon tidak pernah menjadi bagian dalam gencatan senjata.

China juga sedang melihat dirinya sedang diuji hubungannya dengan Iran sepanjang konflik. Dalam 24 jam pertama gencatan senjata, hanya tujuh kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz, empat diantaranya adalah kapal China. Kapal tanker minyak China lainnya masih berbaris di sekitar Selat.

Iran berkata pemilik kapal harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari rezim dan mengikuti rute yang ditentukan untuk menghindari ranjau laut. Iran juga memperingatkan akan mengenakan biaya besar pada setiap kapal yang melintas, dan China tidak mendapat perlakuan khusus.

Minggu lalu, sebuah kapal tanker minyak menuju China diserang oleh Iran. Epoch Times melaporkan Iran menolak permintaan China untuk menjamin keamanan kapal-kapalnya. Para analis berkata ini bisa menjadi cara Iran menekan Beijing agar memberikan dukungan militer.

Dalam konferensi pers di Beijing hari Rabu, duta besar Iran menyerukan agar China dan Rusia membantu menjamin keamanan regional, tetapi kedua negara tersebut tidak menanggapi. Presiden Trump mengkonfirmasi peran China dalam perundingan gencatan senjata, menyoroti pengaruh Beijing atas Iran.

Penutupan Selat Hormuz membahayakan hampir setengah dari impor minyak China. China membeli sebagian besar minyak Iran yang dikenai sanksi, memberi sumber kehidupan bagi rezim Iran, namun juga penting bagi Beijing yang bergantung pada pasokan murah tersebut.