Fokus

Keluhan Warga Luar Kota di Tengah Lockdown Shanghai

Jalan-jalan di ibu kota Tiongkok sepi pada hari Jumat lalu.

Otoritas telah mendesak penduduk Beijing untuk bekerja dari rumah dalam upaya untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Pejabat kota mengonfirmasi pada hari Kamis bahwa Beijing tidak memiliki rencana untuk mengadopsi tindakan penguncian gaya Shanghai.

Mereka tidak menganjurkan panic buying, dan sekali lagi meminta penduduk setempat untuk tinggal di rumah.

Tapi pemberian kepastian itu mungkin tidak cukup.

Banyak yang masih tampak takut bahwa Beijing akan mengikuti jejak Shanghai, dan menimbun makanan serta kebutuhan pokok.

Ketegangan tampaknya mereda pada hari Jumat, setelah orang-orang membersihkan rak-rak toko dan memasok kembali, sehari sebelumnya.

“Saya memang menyimpan makanan beberapa waktu lalu, tapi kemarin tidak. Saya pikir di Beijing tidak perlu terlalu khawatir. Ini adalah kota tingkat pertama, seharusnya tidak ada kekurangan persediaan.”

Meski mengabaikan potensi penguncian, otoritas Beijing telah melarang layanan restoran makan di tempat, menutup beberapa tempat umum, menangguhkan bagian transportasi umum, dan memberlakukan penguncian terbatas pada beberapa bangunan tempat tinggal.

Di bawah sistem “kode kesehatan”, kode warna pada setiap aplikasi pengguna menentukan apakah orang tersebut diizinkan memasuki fasilitas tertentu atau menggunakan transportasi umum.

Tapi sistem ini terbukti membawa malapetaka bagi mereka yang tidak memiliki smartphone, banyak dari mereka adalah lansia.

“Saya dari Provinsi Anhui. Saya sudah menunggu di sini di stasiun kereta Wuxi selama 3 hari. Saya sudah membeli tiket kereta tiga kali, dan mengembalikannya tiga kali. Untuk setiap pengembalian saya dikenakan biaya 20% dari harga tiket. Saya memiliki ponsel non-smartphone, jadi tidak dapat memindai kode kesehatan. Saya sudah melakukan tes Covid-19, dan masih belum bisa pulang. Saya mohon kepada otoritas, tolong bantu saya pulang. Saya berumur 70 tahun.”

Pria itu menunjukkan hasil tes Covid-19 negatifnya, serta beberapa kode lain yang diperlukan untuk perjalanannya.

Tapi dia tetap tidak diizinkan masuk, karena dia tidak bisa memindai mereka tanpa perangkat pintar.

Orang yang merekam klip ini berbicara kepadanya.

Pewawancara: “Apakah Anda ingin kembali ke rumah?”

Lansia: “Ya. Saya ingin.”

Masalah lansia itu bukan kasus yang terisolasi, setidaknya satu pelancong lain menghadapi situasi yang serupa, di Shanghai.

Klip lain mengungkapkan dampak lain dari pembatasan virus.

Seorang pria berbaju pelindung putih terlihat menangis di jalan yang kosong, karena berita sedih dari rumah yang jaraknya ratusan mil.

Ibunya meninggal, namun karena lockdown di Shanghai, dia tidak bisa pulang untuk mengucapkan selamat tinggal.

“Ibu saya meninggal.”

“Dimana ibu Anda?”

“Kampung halaman saya.”

“Di mana kampung halaman Anda?”

“Provinsi Shandong.”

“Bisakah Anda kembali?”

“Saya di Shanghai. Bagaimana saya bisa kembali?”

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI