Fokus

Kisah Latar Belakang Pembunuh di Tiongkok, yang Mendapat Simpati Publik

Pembunuhan dengan kekerasan di Tiongkok Selatan, dua meninggal dan tiga terluka dalam pembantaian keluarga.

Kisah pembunuh buronan itu memicu diskusi online.

Kekerasan terjadi selama akhir pekan (10 Okt) di Fujian.

Seorang pria diduga menikam satu keluarga di sebuah desa, menewaskan 2 orang dan melukai 3 orang, termasuk seorang anak berusia 10 tahun.

Polisi setempat menawarkan hadiah lebih dari 3.000 dolar untuk keberadaannya, dan tiga kali lipat untuk mayatnya.

Tawaran itu memicu kontroversi online.

Komentar menyatakan, hadiah semacam ini mendorong orang untuk membunuh, karena jumlah yang lebih tinggi dijanjikan untuk mayat tersangka, daripada petunjuk tentang lokasinya.

Polisi kemudian menghapus pengumuman mereka.

Menurut laporan media Tiongkok, para korban diidentifikasi sebagai tetangga, dari tersangka yang bermarga Ou.

Pada 2017, Ou mengajukan permohonan kepada pemerintah setempat untuk merenovasi rumah lamanya.

Setelah disetujui, Ou menghancurkan rumah yang lama, untuk membangun yang baru.

Namun rencana itu digagalkan oleh para korban.

Didukung oleh pemerintah setempat di bawah rezim komunis Tiongkok, keluarga korban berulang kali memprotes rencana Ou.

Akibatnya, Ou dan Ibunya yang berusia 90 tahun tidak punya tempat untuk pergi.

Selama enam tahun, mereka tinggal di bawah kanopi darurat.

Seorang warga desa memberi tahu kami:

“Kami biasanya tidak bisa membangun rumah di sini, [lingkungan] harus menandatanganinya. Tidak ada tanda tangan, tidak ada persetujuan. Tapi [Ou] memiliki persetujuan, jadi saya tidak tahu mengapa [tetangga] menghalanginya.”

Sepertinya Ou mencoba mencari bantuan.

Dalam foto yang diterbitkan, dia menulis nomor telepon untuk saluran pengaduan di selembar kertas, termasuk untuk media pemerintah dan otoritas lainnya.

Dia juga memposting di media sosial pada awal Juni, tapi upaya itu sepertinya tidak membuahkan hasil.

“Dia menghubungi ‘Stasiun TV Tenggara’. Dia juga ingin mengajukan petisi dan membela haknya. Dia telah diabaikan selama 5 tahun, itu sebabnya ini terjadi.”

Tapi satu kejadian, kanopi Ou runtuh diterjang angin topan, dan beberapa bagian jatuh ke rumah korban.

Hal ini menyebabkan pertengkaran di antara mereka, dan akhirnya pembantaian.

Setelah media Tiongkok melaporkan latar belakang ceritanya, daripada mengutuk Ou, banyak orang Tiongkok telah menyatakan simpati dengan frustrasi yang menyebabkan pembunuhan.

Beberapa bahkan secara terbuka mengatakan, mereka berharap dia tidak akan pernah tertangkap.

Sayangnya, insiden serupa telah terjadi di seluruh Tiongkok.

Serangan biasanya terkait dengan keluhan atau perselisihan pribadi, dan sering terjadi di antara mereka yang paling “tidak mampu”.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI