Fokus

Konflik China dan Filipina di Laut Cina Selatan Kembali Berlanjut

Sementara itu di Laut Cina Selatan, pertempuran pelampung antara China dan Filipina sedang berlangsung.

Pada hari Rabu, China mengerahkan kapal suar terbesarnya ke Kepulauan Spratly yang disengketakan, melepaskan tiga pelampung navigasi di perairan yang diperebutkan.

Tindakan tersebut mengikuti penempatan penanda serupa oleh Penjaga Pantai Filipina awal bulan ini, yang bertujuan untuk memperkuat klaim wilayahnya, atas area tersebut.

Laut Cina Selatan adalah salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia.

Dan tindakan agresif Beijing di wilayah tersebut telah menarik perhatian dari Barat.

Meskipun Brunei, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam juga mengklaim Spratly,

China telah mengeruk pasir untuk membangun pulau di terumbu karang, dan melengkapinya dengan rudal serta landasan pacu pesawat.

Saat ini, rezim telah membangun 7 pulau buatan di Laut Cina Selatan, dan setidaknya tiga di antaranya sepenuhnya dimiliterisasi.

Beijing selama bertahun-tahun telah mengerahkan ratusan penjaga pantai dan kapal penangkap ikan di daerah yang disengketakan.

Filipina sedang mempertimbangkan apakah akan mengambil kembali kendali jaringan listrik nasionalnya, yang sekarang sebagian berada di tangan Beijing.

Seorang anggota parlemen mengatakan kepemilikan China menimbulkan ancaman keamanan mengingat agresi rezim di Laut Cina Selatan.

Korporasi Jaringan Negara China sekarang memiliki 40% dari Korporasi Jaringan Nasional Filipina.

Ketua Komite Energi Senat Filipina memperingatkan bahwa China dapat “mengakses jaringan nasional negara itu dari jarak jauh dan menyabotasenya.”

Selain itu, perjanjian pemegang saham memungkinkan Beijing untuk memveto sebagian besar resolusi dewan investor.

Senator menyarankan “studi atau audiensi komprehensif” untuk melihat apakah perusahaan itu benar-benar berada di bawah kendali China.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Junior mendukung proposal tersebut, mengatakan pemerintah akan mengambil kembali kendali atas entitas itu jika perlu.

Marcos telah berusaha untuk memperkuat aliansi keamanan negaranya dengan Washington, saat China komunis meningkatkan intimidasinya di Selat Taiwan.

Selama satu minggu di bulan April, lebih dari 100 kapal laut milisi China memasuki Zona Ekonomi Eksklusif Filipina.

Penjaga Pantai Filipina mengatakan salah satu kapal mendekat dengan berbahaya, dan menimbulkan “ancaman signifikan” bagi keselamatan awaknya.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

Lebih banyak informasi tentang Shen Yun silahkan kunjungi: shenyun.com