Site icon NTD Indonesia

Krisis Selat Hormuz, China Batasi Ekspor Pupuk

Perang di Iran berdampak tidak hanya pasar minyak tapi juga pasar pupuk.

Hampir sepertiga ekspor pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Krisis pasokan pupuk dapat berdampak langsung pada musim tanam di musim semi dan ketahanan pangan global. Bagaimana kekuatan pertanian China, yang juga adalah eksportir pupuk utama, mengatasi situasi ini?

China meningkatkan langkah-langkah untuk mengendalikan pasar pupuk domestiknya. Pada akhir pekan, sebuah organisasi sektor pupuk mendesak para produsen pupuk untuk melepaskan cadangan mereka, memastikan akses pupuk yang terjangkau untuk lahan pertanian. Selain itu, Reuters melaporkan beberapa hari yang lalu bahwa 50 hingga 75% pupuk China kini dilarang diekspor.

China adalah produsen terbesar biji-bijian dan pupuk dunia. Dengan membatasi ekspor pupuk, China ingin memastikan ketahanan pangan untuk membangun sistem pasokan pangan yang mandiri.

James Gory, penulis buku The China Crisis, mengatakan kekurangan pangan dan kelaparan dapat menjadi penyebab utama kerusuhan massal, yang dapat mengancam kekuasaan rezim.

Pada tahun 2022, protes yang dipicu oleh kekurangan pangan meletus di tengah pandemi. Ini adalah kejadian pertama dalam lebih dari tiga dekade dan dengan cepat menyebar ke berbagai kota, termasuk Shanghai.

Di luar pandemi, ketegangan antara Washington dan Beijing serta perang di Ukraina telah membuat Beijing lebih waspada. Sekitar 30% pupuk dunia dikirim melalui Selat Hormuz hingga Iran memblokir rute tersebut. Ini segera menyebabkan harga pupuk melonjak dan China mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan harga domestik, yang sekarang rata-rata kurang dari setengah harga global. Namun, klien-klien  China merasakan dampaknya.

Laporan media yang mengutip sumber internal berkata Beijing mungkin tidak berencana untuk mencabut larangan ekspor pupuk hingga Agustus.

Ekspor pupuk China mencapai 16 hingga 20% dari total impor untuk negara-negara seperti India, Brasil, dan Thailand berdasarkan data tahun lalu. Untuk Selandia Baru dan Malaysia, pangsa tersebut sekitar 30%.