Fokus

‘Kubah Emas’: Pertahanan A.S. dari Ancaman Nuklir China dan Rusia

Presiden Trump mengumumkan rencana pertahanan rudal baru hari Selasa yang mampu menghentikan serangan nuklir agar tidak mencapai AS, dan China bereaksi. Sistem pertahanan itu disebut Kubah Emas, bertujuan melindungi warga Amerika dari serangan musuh asing. Proyek yang belum pernah ada sebelumnya ini muncul di tengah peringatan bahwa China sedang mengembangkan rudal baru untuk mengancam AS.

“Ronald Reagan menginginkannya bertahun-tahun lalu, tetapi mereka tidak punya teknologinya, itu sesuatu yang kita punya, di tingkat tertinggi.”

Kemenlu China segera menanggapi, mengklaim kubah itu membawa implikasi perusakan bukannya pertahanan. Seorang jubir juga mengklaim kubah akan melanggar perjanjian luar angkasa, yaitu perjanjian yang mengatur eksplorasi dan penggunaan ruang angkasa secara damai.

Tujuan Trump adalah meluncurkan sistem pertahanan itu pada tahun 2029. Ia berkata proyek akan menelan biaya sekitar 175 miliar dolar, namun para kritikus mempertanyakan apakah ini adalah penggunaan dana pemerintah yang baik. Walaupun begitu, Presiden Trump tetap melanjutkan dan menugaskan wakil kepala operasi luar angkasa di Angkatan Luar Angkasa AS, Michael Guetlein, untuk memimpin proyek ini. Guetlein berbicara tentang kemungkinan ancaman asing pada Amerika Serikat.

“Musuh telah dengan cepat memodernisasi kekuatan nuklir mereka, membangun rudal balistik yang mampu menampung banyak hulu ledak. Membangun rudal hipersonik yang mampu menyerang AS dalam waktu satu jam, melaju dengan kecepatan 6.000 mil per jam. Membangun rudal jelajah yang melewati radar dan pertahanan, kapal selam yang menyelinap ke pantai kita. Lebih buruk lagi, senjata luar angkasa.”

China dan Rusia telah bekerja sama di luar angkasa dengan rencana meluncurkan satelit dan bahkan mungkin senjata nuklir ke orbit. Golden Dome adalah upaya memperkuat pertahanan AS terhadap ancaman canggih ini, termasuk rudal balistik dan hipersonik serta senjata udara generasi berikutnya.

Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif awal tahun ini, menguraikan rencana untuk melindungi warga Amerika di infrastruktur penting dari ancaman udara. Nama-nama besar seperti kontraktor militer AS Lockheed Martin dan Space X Elon Musk diharapkan membantu membangunnya. Idenya terinspirasi oleh Iron Dome milik Israel, yang dirancang untuk mencegat rudal jarak pendek dari musuh asing. Tahun lalu, Israel menggunakannya untuk menembak jatuh sekitar 300 rudal dan drone yang ditembakkan oleh Iran dan Hizbullah. Saat itu, pejabat AS mengatakan sistem itu belum diperlukan, terutama dengan negara tetangga seperti Kanada dan Meksiko. Namun sekarang fokusnya bergeser, untuk mempertahankan diri dari ancaman gabungan China dan Rusia di luar angkasa maupun di luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, China menunjukkan agresi tingkat tinggi dengan menempatkan kapal-kapal angkatan lautnya di dekat pantai Alaska, Australia, dan Taiwan.