Fokus

‘Laporan dari Tiongkok Tidak Dapat Dipercaya’: Kanada

Dan di Beijing, sebuah tuduhan baru muncul di internet.

Pejabat menyalahkan surat internasional dari Kanada, karena diduga membawa kasus pertama varian Omicron ke kota itu.

Infeksi pertama kali dilaporkan pada Sabtu (15 Jan).

2 hari kemudian dalam konferensi pers, CDC Beijing mengklaim telah menemukan jejak virus pada potongan surat yang diterima pasien.

Wakil direkturnya mengatakan surat itu berasal dari Kanada, dan melakukan perjalanan melalui AS dan Hong Kong sebelum tiba di Beijing.

Pejabat itu kemudian mendesak penduduk Beijing untuk mengurangi pembelian dari luar negeri, untuk menghindari surat luar negeri.

Tapi arahan baru ini menimbulkan beberapa ‘bendera merah’.

Kembali ketika pandemi pertama kali pecah di Wuhan, postingan Tiongkok, mengonfirmasi bahwa risiko penularan virus melalui surat sangat rendah.

Dan itu bukan satu-satunya kontradiksi.

Pada tahap awal pandemi, seruan internasional untuk memboikot produk Tiongkok, juga mulai meningkat, karena ketakutan akan kemungkinan kontaminasi.

Untuk melawan balik, rezim Tiongkok menerbitkan sebuah artikel di situs resminya Maret lalu.

Artikel itu berjudul, “(Virus korona pada ekspor Tiongkok? Klaim ini tidak memiliki akal sehat).”

Artikel itu menentang klaim, bahwa virus dapat bertahan hidup di permukaan benda, menyebut gagasan itu, “Tidak berdasarkan ilmiah dan bertentangan dengan fakta.”

Artikel itu lanjut menjelaskan bahwa virus hanya dapat bertahan hidup di dalam inang, dan dengan cepat mati tanpa inang, hanya dalam 4 hingga 72 jam.

Adapun untuk postingan tentang klaim infeksi terbaru, di Kanada, para dokter mencela tuduhan Beijing.

“Saya menemukan ini, katakanlah, pandangan yang luar biasa.”

Sementara pemimpin lain telah menawarkan hal serupa.

“Saya telah mendengar cerita itu dan menganggapnya cukup lucu.”

O’Toole menggambarkan klaim itu sebagai pengingat, bahwa beberapa laporan yang keluar dari Tiongkok, tidak dapat dipercaya.

Seberapa jauh Tiongkok akan mengambil apa yang disebut kebijakan ‘nol-covid’, dan seberapa keras tindakan penguncian akan dilakukan di negara itu?

Sebuah obrolan grup di antara penduduk dari satu lingkungan di kota Xi’an, mencantumkan alasan mengapa orang harus mengikuti aturan, atau jika tidak.

Di dalam grup pesan, sebuah postingan menyebutkan 10 alasan untuk tetap ‘dalam barisan’.

Sebagian besar dari mereka menyoroti konsekuensi dari melanggar perintah tinggal di rumah.

Di puncak daftar, peringatan pertama berbunyi:

“Rumah Anda akan dikelilingi oleh mobil polisi dan ambulans. Dan akan disegel!”

Selanjutnya, postingan tersebut memperingatkan bahwa staf pengendalian pandemic akan datang untuk siapa saja yang melanggar aturan, dan akan membawanya pergi.

Namun perlu diperhatikan, postingan itu sebenarnya tidak menggunakan istilah “staf pengendalian pandemi”.

Sebaliknya, itu merujuk pada “jubah putih bertopeng.”

Peringatan lengkapnya berbunyi: “Anda akan diseret oleh jubah putih bertopeng, seperti tukang jagal yang menyembelih babi.”

Postingan itu juga menyebutkan sahabat manusia, menyatakan bahwa hewan peliharaan pelanggar aturan “akan disembelih.”

Lalu lanjut mengutip kata-kata kebijakan resmi, menggambarkan “perlakuan untuk membuat (hewan peliharaan) tidak berbahaya.”

Seperti banyak peringatan lain dalam daftar itu, laporan setidaknya terkait satu kasus, muncul kembali dari bulan November di Tiongkok Timur.

Seorang wanita di sana dibawa ke tempat karantina dimana ‘tidak boleh ada hewan peliharaan’, dan harus meninggalkan anjingnya di rumah.

Dia telah memelihara hewan itu selama lima tahun.

Petugas kesehatan berjanji tidak akan menyakiti anjing tersebut.

Tapi saat menonton ‘feed’ jarak jauh dari kamera di dalam rumahnya, dia menyaksikan dua pria berjas pelindung memasuki ruangan.

Begitu masuk, mereka memojokkan hewan peliharaannya, memukulnya dengan apa yang tampak seperti tongkat besi.

Anjing itu terlihat mencoba melarikan diri, tapi tidak berhasil.

Kemudian orang-orang tersebut membungkus hewan itu ke dalam plastik.

Setelah kejadian itu, pemilik hewan peliharaan membagikan video tragis tersebut secara online.

Kehebohan segera meledak secara online.

Di tengah kritik, otoritas memposting pemberitahuan yang mengatakan:

“Pekerja di lokasi merawat anjing itu agar tidak berbahaya tanpa komunikasi menyeluruh dengan sang warganet (pemilik anjing).”

Adapun sisa daftar peringatan obrolan grup itu, satu poin mencatat bahwa pejabat dapat memilih untuk mengkarantina gedung apartemen, komunitas, atau bahkan seluruh kota, semua, jika ada hanya satu orang yang melanggar perintah penguncian.

Sementara konsekuensi terakhir menggambarkan menjalani karantina tanpa ponsel pintar atau perangkat lain, karena pejabat dapat memutuskan untuk menyitanya.

Di Hong Kong, lebih dari 2.000 hamster dijadwalkan untuk dibunuh, dan impor hewan kecil akan dihentikan, setelah satu orang pekerja toko hewan dinyatakan positif mengidap varian Delta.

Otoritas di Hong Kong telah mengeluarkan perintah pengendalian pandemi baru.

Itu setelah seorang pekerja toko hewan peliharaan, dan 11 hamster dari toko yang sama, dipastikan terjangkit virus.

Kini, para pekerja mengumpulkan hewan-hewan dari toko hewan peliharaan, dan membunuhnya.

Pada Kamis pagi, beberapa warga menyerahkan hamster mereka untuk dimusnahkan, atas perintah kota.

Namun para sukarelawan mencegat sebagian besar hewan itu, untuk diamankan.

Sekitar selusin pecinta hamster juga berbondong-bondong ke fasilitas pemerintah, berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin hewan itu.

“Faktanya, hamster-hamster itu tidak bersalah. Mereka tidak dapat dihukum mati karena virus. Kami semua merasa tertekan dan menyalahkan diri sendiri karena tidak dapat membantu, jadi kami di sini hari ini untuk menyelamatkan mereka.”

Otoritas Hong Kong tidak segera menanggapi permintaan komentar atas tindakan para sukarelawan tersebut.

Pembaruan itu mengikuti gejolak lain dari hari Rabu.

Saat itulah petugas kesehatan Hong Kong turun ke toko hewan peliharaan untuk memusnahkan.

Meski para ilmuwan dan otoritas kesehatan Hong Kong mengatakan hewan tidak mungkin menularkan COVID-19 ke manusia, Hong Kong masih memutuskan untuk membunuh hewan-hewan itu, dalam mengejar kebijakan nol-toleransi untuk COVID-19.

Seperti yang dikatakan Menkes Hong Kong pada hari Selasa, dia tidak dapat mengesampingkan kemungkinan penularan apapun.

Otoritas juga menutup lusinan toko hewan peliharaan, dan menangguhkan impor serta penjualan mamalia kecil.

Terlebih lagi, mereka memerintahkan siapa saja yang membeli hamster setelah 22 Desember tahun lalu, untuk menyerahkan hewan mereka, untuk dimusnahkan.

Namun warga mempertanyakan arahan tersebut.

“Saya pikir itu tidak etis, dan tidak benar membunuh semua hamster begitu saja.”

“Bukannya setiap hewan kecil akan terinfeksi, kan. Dan mereka semua memiliki kehidupan mereka sendiri. Mereka tidak boleh dibunuh begitu saja seperti ini.”

Sekitar 150 pelanggan toko hewan peliharaan juga dikirim ke karantina.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI