Laporan terbaru dari Rhodium Group mengestimasi bahwa pertumbuhan GDP Tiongkok tahun ini berada di bawah 3%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan target resmi pemerintah Tiongkok yang dipatok di angka 5%. Menurut Rhodium Group, perlambatan ini didorong oleh penurunan tajam investasi pada aset tetap.
Investasi pada aset tetap merujuk pada pengeluaran untuk aset fisik jangka panjang yang digunakan dalam produksi barang dan jasa, seperti pabrik, kendaraan, dan infrastruktur. Data terbaru yang dirilis pada Senin menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi Tiongkok semakin nyata di bulan November, di mana investasi mencapai titik terendah dalam sejarah.
Di sisi lain, sektor konsumsi juga menunjukkan pelemahan dengan pertumbuhan penjualan ritel mencapai titik terlambat dalam 3 tahun terakhir. Hal ini menjadi sinyal melemahnya belanja konsumen dan memburuknya kondisi pasar properti. Menanggapi situasi ini, pekan lalu pejabat Tiongkok menyatakan rencana mereka untuk menggenjot konsumsi domestik dan meningkatkan pendapatan rumah tangga.
Meskipun ada upaya mendorong konsumsi, pengembangan teknologi dan manufaktur canggih tetap menjadi prioritas utama pemerintah dalam rencana 5 tahun berikut. Sebagai proyeksi ke depan, laporan tersebut memperkirakan ekonomi Tiongkok hanya akan tumbuh di kisaran 1% hingga 2,5% pada tahun depan.

