NATO bersiap menghadapi era baru untuk membendung kekuatan China dan Rusia. Fokus utamanya meliputi pengembangan drone, sistem pertahanan rudal, hingga pengamanan bahan baku senjata canggih.
Inisiatif ini tercetus mengingat saat ini China menguasai mayoritas pasokan mineral tanah jarang dan 90% kapasitas pemrosesan. Bahan baku ini sangat krusial untuk memproduksi radar, rudal kendali, jet tempur, dan teknologi militer lainnya.
Mark Rutte (Sekjen NATO):
“China terus memodernisasi militer dan nuklirnya secara tidak transparan. Begitu juga Korea Utara, mereka terus mengembangkan program nuklir serta menyuplai Rusia. Meski baru-baru Amerika ini berhasil melumpuhkan program nuklir dan rudal balistik Iran, kita harus tetap waspada karena negara-negara ini senantiasa bekerja sama.”
Menurut Rutte, hal itu menjadi pengingat lain atas tantangan yang kini dihadapi NATO.
Mark Rutte (Sekjen NATO):
“Kita tidak boleh naif terhadap China, kita semua paham. dan itulah mengapa kita menjalin kerja sama ini. Apa yang terjadi di Pasifik sangat relevan dengan apa yang terjadi di Transatlantik. Kita juga melihatnya dalam perang di Ukraina, di mana China, Korea Utara, dan Iran menjadi penyokong utama agresi militer Rusia terhadap Ukraina.
China dan Rusia menggelar latihan militer laut bersama di lepas pantai kota Qingdao, timur laut China. NATO menyebut ancaman itu mendorong investasi baru atas proyek 40 miliar dolar dari 32 negara anggota untuk mempercepat produksi drone dan teknologi penangkalnya..
Rutte menegaskan bahwa NATO kini berfokus mempercepat perluasan kemampuan operasional drone secara masif.
Rutte berkata Eropa tidak lagi bisa senantiasa bergantung pada AS. Negara anggota NATO kini ditargetkan mengalokasikan 5% dari PDB mereka untuk anggaran pertahanan pada tahun 2035 demi membangun kekuatan Eropa yang mandiri.

