Fokus

Lockdown yang Tiba-Tiba, Panic Buying, di Tiongkok

Sekarang kita melihat ke Tiongkok Barat Laut. Kabupaten Baishui, di dalam provinsi Shaanxi, mengumumkan satu pasien virus yang dikonfirmasi pada hari Jumat.

Tapi kami tidak dapat memverifikasi informasi secara independen.

Pada hari yang sama, para pejabat mengumumkan penguncian tiba-tiba, yang mencakup seluruh kabupaten dan 300 ribu penduduknya.

Orang-orang di sana dilarang menghabiskan waktu yang tidak penting di luar, mengunjungi keluarga dan teman, serta berkumpul di depan umum.

Kendaraan juga diblokir agar tidak masuk atau meninggalkan daerah itu.

Saat ini tidak diketahui berapa lama larangan tersebut akan berlangsung.

Langkah-langkah ketat yang tiba-tiba telah mendorong gelombang panic buying lokal, yang telah membuat harga melonjak.

Penduduk setempat, Lei, yang tinggal di dekat kabupaten tersebut, memberitahu kami bahwa kehidupan di luar daerah tersebut juga terdampak.

Dia mengatakan harga sayuran telah melonjak, beberapa sampai 3 kali lipat dari harga aslinya.

Bahkan tepung dasar, kini dijual 11 kali lipat harga standarnya.

Lei juga menambahkan bahwa otoritas kini, memiliki kontrol yang lebih ketat atas obat-obatan.

Obat flu dan batuk sekarang membutuhkan izin untuk dibeli.

Ini adalah taktik yang digunakan untuk mengarahkan semua orang dengan kemungkinan gejala virus, ke rumah sakit setempat, alih-alih merawat diri sendiri di rumah.

Warga lain mengeluh di media sosial selama akhir pekan bahwa Ibunya menderita batuk, tapi keluarganya bahkan tidak dapat membeli obat batuk dasar dari apotek.

Peraturan lokal dilaporkan memaksa penduduk untuk melakukan tes virus sebelum mereka dapat menerima perawatan untuk pilek.

Tapi menjalani tes virus, dilakukan dengan biaya sendiri.

Penduduk tersebut mengungkapkan ketidakpuasannya dengan sistem itu, menanyakan bagaimana “mungkin bagi orang biasa untuk menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk mengobati pilek.”

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.