Fokus

Mahasiswa Tiongkok Anti-Komunis di AS: Takut Pulang ke Tiongkok

Ye adalah seorang mahasiswa Tiongkok yang datang ke AS menuntut ilmu di tahun 2016. Tidak seperti kebanyakan siswa Tiongkok lain, ia sangat antipati pada Partai Komunis Tiongkok.  

[Ye, Siswa Tionghoa di AS]:

“Saat saya di SMP, sekolah rutin mengatur wakil dari setiap kelas ikut mengibarkan bendera nasional. Suatu kali saya diatur ke kelompok itu, yang lainnya sangat menghormati bendera nasional, saya sebaliknya tidak sudi, malah saya pakai menggosok sepatu. Tidak sudi mengikuti tren mendukung PKT.”

Semasa kuliah, Ye tertarik pada agama Kristen dan sering mendengar cerita pendeta yang mengungkap kebohongan Partai Komunis. Namun keluarganya yang tidak setuju membuatnya depresi, dan ia sangat ingin keluar dari Tiongkok.

Pemikirannya ini sangat ditentang kedua orang tuanya yang bekerja di perusahaan milik negara. Dengan bekerja di BUMN, mereka mendapat perlakuan khusus sehingga anak mereka mudah untuk mendapatkan pekerjaan disana.

Tetapi bagi Ye, ini bukan kehidupan yang bahagia. Setelah lulus kuliah, Ye pun bekerja setahun di perusahaan milik negara dan mengundurkan diri dengan alasan ingin melanjutkan pascasarjana.

Dalam menekuni bidang pascasarjana pilihannya, Ye belajar penuh antusias, namun semua itu berubah saat ia mengetahui para mentor pembimbingnya, juga bekerja untuk Partai Komunis Tiongkok.  

[Ye, Siswa Tionghoa di AS]:

“Saya lalu tidak ingin melanjutkan penelitian ilmiah itu, bukan karena saya membencinya, tapi karena tidak sudi melakukannya untuk PKT.”

Setelah tiga tahun, ia akhirnya memutuskan beralih karir dan pergi ke Amerika Serikat untuk mempelajari ilmu teologi dan film.

Selama di AS, PKT memperkenalkan UU Anti Ekstradisi di Hong Kong, ada pula virus COVID-19 atau Virus PKT yang meledak. Rasa antipatinya semakin mendalam. Ia dan teman-teman sekelasnya membuat video yang mendukung Hong Kong dan aktif di media sosial.  

Saat ini, keluarga menjadi masalah terbesar.

Tekanan dan desakan dari orangtuanya semakin keras, menggerakkan para kerabatnya membujuknya pulang ke Tiongkok, bahkan memakai alasan ibunya yang sakit untuk meruntuhkan pertahanan psikologisnya. 

[Ye, Siswa Tionghoa di AS]:

“Mereka dalam pengaruh Propaganda Besar PKT, terlebih saya anak tunggal. Mereka menanyakan setiap hari bagaimana keadaan saya di AS. Mereka mengira AS telah menjadi medan perang, setiap hari membujuk saya kembali ke Tiongkok. Saya paling dekat dengan ibu, dalam hati saya sangat menderita.”

Pengaruh propaganda Partai yang sangat besar ini membuat komunikasi antara orang tua dan anak menjadi memburuk.   

[Ye, Siswa Tionghoa di AS]:

“Kondisi ekonomi keluarga saya terbilang miskin, namun begitu ayah saya masih saja menyokong PKT, selalu mengatakan orang Tiongkok adalah yang terkaya di dunia, orang asing banyak yang berebut imigrasi ke Tiongkok.”

Saat akhirnya ia mulai goyah dan bersiap pulang demi merawat ibunya, serangkaian peristiwa terjadi di Tiongkok membuatnya takut

[Ye, Siswa Tionghoa di AS]:

“Termasuk usulan Li Keqiang tentang ekonomi lapak, baru berlangsung sepuluh hari sudah kena razia pamong praja, hal ini membuat saya sangat takut, belum lagi tingkat penganggurannya. Termasuk ramalan yang saya lihat di NTDTV tentang Tiongkok tahun ini, banjir dan kelaparan, saya semakin takut pulang ke Tiongkok.”

Kebenaran telah mampu ia lihat dengan jelas. Tapi karena merasa ia tidak dapat berbakti pada keluarga, muncul rasa bersalah di hatinya.  

[Ye, Siswa Tionghoa di AS]:

“Saya ingin menghimbau semua orang jangan menundukkan kepala, jangan tunduk pada PKT, lanjutkan berjuang! Suatu hari nanti, hutang kasih sayang keluarga sangat mungkin bisa ditebus.”

Ye berkata, kini situasi terus berubah. Telah semakin banyak orang-orang yang menentang PKT dengan slogan “Langit akan memusnahkan Partai Komunis Tiongkok” di seluruh dunia. (ntdtv/ljy/crl/lia)

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.