Fokus

Mantan Pejabat Depkes Tiongkok: Skandal Vaksin Beracun Akibat Pejabat Korup Partai Komunis Tiongkok!

Vaksin Palsu Merajarela di Tiongkok (Foto: AFP via Getty Images)
Vaksin Palsu Merajarela di Tiongkok (Foto: AFP via Getty Images)

Seorang mantan pejabat Departemen Kesehatan Partai Komunis Tiongkok baru-baru ini mengungkapkan rahasia komplotan “vaksin racun”, mengecam para pejabat Partai Komunis yang telah menipu masyarakat, menutupi dan menaungi kejahatan hingga menyebabkan vaksin beracun merajarela di Tiongkok.

Chen Bingzhong, yang merupakan seorang mantan pejabat Kementrian Kesehatan Partai Komunis Tiongkok, pada tanggal 11 November membeberkan sebuah laporan yang mengejutkan. Menurutnya, derita masyarakat Tiongkok akibat menyebarnya vaksin beracun adalah akibat para pejabat Partai Komunis yang saling melindungi komplotannya demi mengeruk lebih banyak keuntungan.

Sejak beberapa tahun terakhir, fenomena vaksin beracun merajarela di Tiongkok. South China Morning Post melaporkan bahwa pada Juli tahun lalu, perusahaan Changchun Changsheng Bio-technology, yang adalah salah satu perusahaan produsen vaksin terbesar di Tiongkok, telah memproduksi 252,600 vaksin DPT dibawah standar yang diberikan pada ribuan bayi. Di tahun 2016, otoritas juga mengatakan bahwa 2 juta vaksin yang disimpan secara sembarangan juga telah dijual di seluruh Tiongkok. Setahun berikutnya, ratusan bayi di provinsi Henan dilaporkan diberikan imunisasi yang telah kadaluwarsa, menyebabkan dua kematian.

Laporan Chen Bingzhong terutama sangat mengecam perkataan Gao Fu, Direktur CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Tiongkok, yang dalam konferensi pers nya mengatakan, “Vaksin Tiongkok adalah salah satu vaksin terbaik dunia. Anda harus bedakan antara ‘vaksin’ (yang hebat ini) dengan ‘vaksin’ yang bermasalah.”

Menurut Chen, dengan berbagai skandal vaksin yang telah terjadi, pernyataan Gao Fu ini telah menyesatkan pikiran orang. “Meminta orang memisahkan hal ini (vaksin hebat dan vaksin bermasalah), berarti ia melepaskan tanggung jawab; dan menutupi kebenaran,” ungkap Chen.

Laporan Chen mengungkap, vaksin adalah pohon penghasil uang bagi para pengusaha dan pejabat korup Partai Komunis. Misalnya, perusahaan Changchun Changsheng Bio-technology yang memproduksi vaksin, di tahun 2017 diketahui telah membayar suap sebesar 583 juta yuan dalam setidaknya 10 kasus penyuapan, menurut China Judgement Online, sebuah situs database yang memuat hasil penyelidikan. Menurut Chen, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok adalah organisasi sarang korupsi, organisasi telah memberikan persetujuan bagi vaksin yang tidak berkualitas, diloloskan dari pemeriksaan ketat untuk perizinan vaksin.

Atas hal ini, Chen berpendapat bahwa hukuman yang dijatuhkan terhadap produsen vaksin beracun ilegal semacam ini juga terlalu ringan, sehingga tidak memberikan efek jera. “Produsen berani mengabaikan hidup dan mati anak-anak, membuat obat palsu secara terang-terangan. Departemen Kesehatan Partai Komunis Tiongkok harus memikul tanggung jawab serius. Namun mereka tidak berani menjatuhkan hukuman berat pada pejabat yang melanggar hukum. Jika diberi hukuman berat, orang-orang akan bertanya, ia diangkat oleh siapa? Bukankah diangkat oleh pusat? Mereka sendiri, antara para pejabat akan saling melindungi dan membela. Karena itulah tidak ada penanganan serius hingga sekarang,” katanya.

Zhao Ming, seorang staf agen di Runze Pharmaceutical Co, Ltd Shaanxi berkata, selama Partai Komunis Tiongkok masih berkuasa, akan sulit untuk memperkuat hukum yang relevan di bawah sistem ini. Menurutnya, dibawah sistem rezim korup dimana setiap pejabat hanya memikirkan keuntungan diri sendiri dan setiap kelemahan rezim ditutup-tutupi, masalah tidak akan terselesaikan.

Kabar terkini, Changchun Changsheng Life Science, yang merupakan anak perusahaan dari Changchun Changsheng Bio-technology, telah dinyatakan bangkrut pada tanggal 7 November. Perusahaan itu diketahui telah menyebarkan vaksin rabies palsu ke seluruh Tiongkok, sebelum menarik kembali produk tersebut pada Juli 2018. (ntdtv/ljy/lia)