Perdana Menteri India Modi dan kunjungan pertamanya ke China dalam tujuh tahun membuat gebrakan, bukan hanya karena foto-fotonya tersenyum bersama Xi Jinping dan Vladimir Putin. Presiden Trump ikut berkomentar, membidik China dan apa yang disebutnya poros kejahatan. Apa strategi Trump pada India, dan mengapa strategi ini tampaknya tidak berlaku saat menyangkut rezim komunis China? Mari kita bahas.
Pada KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai minggu ini, Perdana Menteri India Narendra Modi terlihat berbincang hangat dengan pemimpin rezim China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kemudian, ia juga terlihat menyambut pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bersama Putin.
Hari Jumat, Presiden Trump berkomentar, “Sepertinya kita telah kehilangan India dan Rusia ke China yang dalam dan gelap.”
Saat perundingan perdagangan AS-India terhenti, Trump menganggap India sebagai negara yang ekonominya mati. Mulai 27 Agustus, AS memberlakukan tarif 50% atas impor India, yang mencakup tarif 25% pembelian minyak Rusia oleh India. AS menganggap pembelian minyak ini membantu mendanai perang Rusia di Ukraina, namun India menolak dan berkata bahwa China-lah pembeli minyak Rusia terbesar.
Sementara itu, pemerintahan Trump memecah keheningan diplomatik selama setahun dengan Pakistan dan menandatangani kesepakatan pengembangan minyak baru dengan Islamabad. Langkah itu juga membuat India frustasi.
Beberapa analis berkata strategi Trump telah membuat India lebih dekat dengan China, namun seorang analis urusan China Alan Zeng melihatnya secara berbeda. Ia yakin ini adalah strategi untuk memulihkan industri manufaktur dan dominasi ekonomi Amerika.
[Alan Zeng, Analis Urusan China]:
“Sanksi AS terhadap India telah memicu frustrasi di New Delhi. New Delhi menyebut tindakan tersebut tidak adil. Mengapa, mereka bertanya, Washington bersikap begitu keras terhadap India sementara tidak melibatkan Beijing? Ada alasan yang lebih mendalam atas tindakan Trump. Sanksi tersebut bukan hanya hukuman atas pembelian minyak dan senjata Rusia oleh India. Trump mungkin juga ingin mencegah bisnis Amerika yang keluar dari China pindah ke India. Secara khusus, mereka mungkin ingin mencegah perusahaan seperti Apple mengalihkan manufaktur skala besar ke India, dan ingin mengembalikannya ke Amerika Serikat. Tentu saja, ia tidak bisa mengatakannya dengan lantang. Trump punya strategi kebijakan, banyak dari itu adalah membawa kembali rantai pasokan penting ke Amerika. Dari perspektif ini, tekanan Trump pada India dapat dilihat sebagai bagian dari manuver geopolitik yang lebih luas. Sanksi India lebih dari sekedar reaksi pada perdagangannya dengan Rusia, tapi adalah rencana jangka panjang Trump untuk menghidupkan kembali ekonomi industri Amerika.”
Hubungan AS-India juga didasarkan pada hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut. Mantan penasihat keamanan nasional John Bolton berkata ikatan pribadi yang dulu erat antara Trump dan Modi kini telah putus. Trump secara terbuka mengklaim berjasa meredakan ketegangan militer antara India dan Pakistan pada bulan Mei. Sebagai tanggapan, Pakistan menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi Modi menolak gagasan bahwa Trump memainkan peran mediasi apa pun, bersikeras bahwa India harus menyelesaikan konflik tersebut sendiri.
Sebelum kunjungannya ke China, Modi singgah di Jepang, dimana ia mengatakan pada media lokal bahwa India dan AS telah berteman di masa lalu dan akan terus berteman di masa depan.
Minggu ini di Beijing, pemerintah China mengadakan parade militer besar-besaran, dimana Xi berdiri bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Parada ini menunjukkan persatuan dari musuh-musuh utama Amerika, dimana Presiden Trump mengunggah postingan di media sosial, berkata: “Sampaikan salam hangat saya pada Vladimir Putin dan Kim Jong-un saat kalian berkonspirasi melawan Amerika Serikat.”
Ini adalah salah satu dari sedikit serangan langsung Trump pada China dan sekutunya, yang disebut Trump sebagai poros kejahatan. Ini adalah perubahan penting, mengingat ia sering menyebut Xi Jinping sebagai teman baik.
[Alan Zeng, Analis Urusan China]:
“Trump tampaknya telah memahami PKC lebih baik dari waktu ke waktu, terutama selama negosiasi perdagangan yang melibatkan Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dan menyaksikan parade militer China baru-baru ini di Beijing. Pengalaman-pengalaman ini membantu Trump memahami bahwa PKC bukan hanya tokoh yang buruk, tapi juga lawan yang tangguh dan tak kenal kompromi. Tapi Trump juga menyadari kenyataan pahit, bahwa AS tak bisa melepaskan diri dari China dalam semalam. Kedua negara ini sangat terjerat secara ekonomi, baik itu modal, rantai pasokan, maupun investasi. Jadi pemisahan diri secara tiba-tiba tidaklah mungkin. Penarikan strategis modal dan manufaktur Amerika dari China membutuhkan waktu.”
Saat ini, gencatan senjata tarif AS-China telah diperpanjang hingga November, namun ketegangan tetap tinggi dengan berlanjutnya perdebatan mengenai fentanil, tanah jarang, kedelai dan kapas. Trump telah berhasil bernegosiasi dengan Uni Eropa, Inggris dan Jepang, namun mengapa pendekatan yang sama tidak berhasil dengan China?
[Alan Zeng, Analis Urusan China]:
“Tampaknya Presiden Trump tidak sepenuhnya memahami Xi Jinping. Trump selalu menggunakan taktik negosiasi bisnis dalam diplomasi dan geopolitik. Ia sering memberikan tekanan, lalu sedikit mengalah, berharap pihak lain akan mengalah dan berkompromi. Namun, hal ini tidak akan berhasil dengan Xi Jinping dan PKC. Secara fundamental, PKC berbeda dari entitas bisnis pada umumnya, atau bahkan bangsa rasional yang mengejar keuntungan ekonomi. Bagi PKC, kelangsungan hidup partai lebih penting dari apapun, bahkan kesejahteraan ekonomi negara. Ketika Trump memaksakan kekerasan dengan harapan kompromi, PKC tidak akan menyerah. Rezim tahu mereka bisa membebankan rasa sakit dan penderitaan apa pun pada rakyat China. Seperti pepatah Tiongkok kuno, bukan saya yang makan rumput, tetapi rakyat saya yang makan. Ini adalah ciri inti dari rezim otoriter seperti China. Rezim ini tidak memikirkan kepentingan nasional negara, namun memikirkan kekuatan dan kelangsungan hidupnya sendiri. Itulah sesuatu yang tidak akan pernah dikompromikan oleh PKC.”
Menurut Menteri Keuangan AS Bessent, putaran perundingan perdagangan tingkat tinggi berikutnya dapat terjadi paling cepat di akhir Oktober atau awal November.
