Menlu AS Marco Rubio dan Menlu China Wang Yi sama-sama menyampaikan pidato pada Konferensi Keamanan Munich Sabtu kemarin. Keduanya membagikan visi yang sangat berbeda terkait masa depan keamanan global. Rubio menekankan apa yang disebutnya akar bersama AS dan Eropa, dan menyebut Amerika sebagai “anak kandung” Eropa. Ia juga menegaskan bahwa Aliansi Barat harus mereformasi diri demi mempertahankan peradabannya.
Sementara Wang menggambarkan China sebagai mitra Eropa, bukan rival. Namun, ia menghindari pembahasan terkait dukungan Beijing terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Para pemimpin Eropa memandang isu ini sebagai ancaman langsung bagi keamanan dan stabilitas dibenua tersebut. Sementara Taiwan tetap menjadi sumbu utama dalam ketegangan AS-China.
Menlu China Wang Yi kembali mempromosikan prinsip “Satu China”, dan menyebut Taiwan sebagai masalah internal Beijing. Ia juga menuduh sikap Jepang terhadap Taiwan sebagai sinyal kebangkitan militerisme. Tahun lalu, Perdana Menteri Jepang menyatakan kemungkinan Jepang melakukan intervensi militer apabila China menyerang Taiwan. Menlu dan Sekretaris Kabinet Jepang mengecam pernyataan Wang, menyebutnya tidak akurat secara faktual dan tanpa dasar.
Sementara itu, partai berkuasa Jepang meraih kemenangan bersejarah dalam pemilihan parlemen minggu lalu, menandakan dukungan kuat bagi sikapnya terhadap keamanan regional. Menlu Taiwan juga membalas komentar Wang, menuduhnya mendistorsi opini internasional dan mengecam provokasi militer China sebagai ancaman terhadap stabilitas regional. Menurut laporan intelijen, Xi Jinping telah memerintahkan militer China untuk bersiap mengambil alih Taiwan pada 2027 jika diperlukan, sembari menangkal respons militer AS apa pun.
John Moolenaar [Ketua Komite Seleksi DPR AS urusan China]:
“Ketika seorang diktator mengatakan dia tengah bersiap melakukan sesuatu yang berbahaya, kita semua harus memegang kata-katanya. Realitas itu menjadikan tahun 2026 sebagai tahun yang krusial, di mana kita harus bersiap diri baik di dalam maupun di luar negeri untuk semua skenario dengan mengerahkan semua instrumen kekuatan nasional yang tersedia. Tujuannya sederhana. Untuk memastikan Beijing tidak pernah memutuskan bahwa agresi terhadap Taiwan akan berlangsung cepat, murah, atau berhasil.”
Meskipun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tidak menyebut Taiwan secara langsung, ia mencatat bahwa kepentingan AS dan China sangat bertentangan. Presiden Trump telah meningkatkan penjualan senjata ke Taiwan. Sementara itu, Kongres bergerak dengan undang-undang dukungan baru, termasuk Undang-Undang Perlindungan Taiwan yang bertujuan untuk menjerat aksi militer China melalui sanksi ekonomi.
