Menteri Luar Negeri Iran bertolak ke Beijing untuk bertemu diplomat China, Wang Yi, pada hari Rabu, menandai pertemuan tatap muka pertama mereka sejak memuncaknya konflik dengan AS awal tahun ini.
Topik yang akan dibahas meliputi kemelut di Selat Hormuz, gencatan senjata dengan AS, serta upaya memperkuat hubungan strategis kedua belah pihak.
Sebelumnya China telah menyarankan gencatan senjata, perlindungan navigasi, dan dukungan atas kedaulatan Iran. Namun, pasca-gencatan senjata Iran-AS, Iran justru menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dan Teluk Oman, menggempur pasukan AS dan menyerang negara-negara tetangga.
Namun AS menilai situasi terkini belum mencapai ambang batas untuk memulai kembali operasi militer skala besar.
[Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal]:
“Keputusan untuk memulai kembali perang adalah urusan politik, itu di luar wewenang saya. Menurut saya, saat ini polemiknya masih sebatas gangguan-gangguan kecil. Struktur komando mereka sangat berantakan; sepertinya pimpinan mereka kesulitan mengendalikan pasukannya di lapangan. Jadi, sejauh ini tingkat kekerasannya masih tergolong rendah.”
[Pete Hegseth, Menteri Perang AS]:
“Tidak, gencatan senjata belum berakhir. Pada dasarnya ini adalah proyek yang terpisah dan berbeda. Kami sudah menduga akan ada sedikit gejolak di awal, dan itu memang terjadi. Kami telah menegaskan akan membela diri dengan agresif, dan kami benar-benar melakukannya. Iran mengetahui hal itu.”
Sebelum menuju Beijing, utusan Iran telah melakukan serangkaian perjalanan ke Pakistan, Oman, dan Rusia. Di Rusia, ia bertemu dengan Presiden Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov. Analis menilai kunjungan ke China ini merupakan upaya terbaru Iran untuk keluar dari isolasi diplomatik akibat tekanan AS yang terus meningkat.
AS telah memblokir kapal-kapal Iran melintasi Selat Hormuz dan mencegat “armada bayangan” yang memuat minyak ilegal. AS juga menjatuhkan sanksi pada perusahaan kilang minyak China, guna memutus sumber pendapatan Iran. Sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak Beijing untuk mengambil tindakan guna menjamin keamanan jalur pelayaran.
[Scott Bessent, Menteri Keuangan AS]:
“Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping sudah membahas soal Iran lewat telepon dan surat. Saya pun sudah membicarakannya dengan Wakil Perdana Menteri China. Sekarang, kita lihat saja apakah mereka mau bertindak secara diplomatis untuk mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz.”
Kunjungan ini sangat sensitif karena dilakukan tepat sebelum rencana kedatangan Presiden Trump ke Beijing Kamis depan. Selama konflik AS-Iran, AS terus memperingatkan China agar tidak membantu Iran.
Trump mengklaim AS telah mencegat paket dari China untuk Iran yang disebutnya sebagai ‘hadiah’dan diduga berisi bantuan militer. Langkah China mengundang Iran saat ini dinilai sebagai upaya memperkuat posisi tawar mereka jelang pertemuan puncak Trump dan Xi mendatang.
