Beredar spekulasi tentang apakah pemimpin Partai Komunis China, Xi Jinping, masih memegang tampuk kekuasaan. Teka teki tersebut didorong oleh beberapa kejanggalan yang datang dari lingkaran politik teratas Beijing. Minggu lalu, Xi muncul dalam siaran kenegaraan menyambut presiden Bellarusia di Beijing. Namun sebelumnya Xi telah absen dari publik selama dua minggu penuh. Hal ini terjadi ditengah tingginya ketegangan antara AS dan China. Berikut detailnya.
Xi telah absen dari publik dari tanggal 20 Mei hingga 4 Juni. Ketidakhadiran Xi menandai kejanggalan selama 12 tahun kepemimpinannya. Selama berbulan-bulan, ada spekulasi bahwa kekuasaannya mungkin telah melemah secara signifikan.
Militer PKC mengalami perombakan besar-besaran. Dua pejabat kepercayaan Xi menjadi target, satu disingkirkan dan satu lagi menghilang dari publik. Laporan mengatakan ia dilengserkan. Maka ketidakhadiran Xi dalam waktu lama hanya memicu tanda tanya.
Selain itu, dua hari selama Xi menghilang dari publik, surat kabar PKC, People’s Daily tidak memuat artikel atau gambar Xi di halaman depannya, pertanda yang tidak biasa selama masa pemerintahannya.
Kemudian Rabu lalu, Xi akhirnya muncul di media pemerintah saat menjamu Presiden Belarusia Aleksandr Lukashenko. Namun tidak seperti kunjungan resmi sebelumnya yang diadakan di Balai Agung Rakyat di Beijing, termasuk kunjungan Lukashenko pada 2023, kali ini cakupannya jauh lebih kecil dan santai.
Terlebih, Xi biasanya memimpin pertemuan bulanan dewan pimpinan tertinggi di bulan Mei, tapi media tidak melaporkan soal pertemuan itu, satu kejanggalan lain.
Seorang koresponden senior Nikkei Asia mengatakan bahwa hal itu tidak akan akan terjadi jika kekuasaan Xi benar-benar stabil.
Beberapa analis meyakini kekuasaan Xi kini lebih bersifat simbolis.
Gordon Chang, pengamat dan komentator China, dalam cuitannya di X sebelum panggilan antaraTrump dan Xi, mengatakan bahwa Xi Jinping telah kehilangan pengaruh signifikan, artinya Trump akan berbicara dengan “orang yang tidak kompeten”.
Sejumlah analis China menduga faksi oposisi Xi Jinping termasuk wakil komandan militer Zhong You Xia dan mantan Perdana Menteri Wen Jiabao.
