Dari YouTuber dengan puluhan juta pengikut, hingga ikon pop dan bintang NBA, mereka adalah wajah-wajah muda barat yang menjadi duta favorit rezim China. Para influencer ini diundang dalam tur yang dikurasi dengan saksama di seluruh China. Dengan pemandu negara, mereka kembali ke negaranya membawa pesan Beijing, mempromosikan narasinya pada khalayak global.
Baru-baru ini, Beijing mengumumkan program baru di surat kabar milik negara yang menawarkan perjalanan 10 hari dengan semua biaya ditanggung ke China pada bulan Juli. Siapa yang memenuhi syarat? Influencer dengan sedikitnya 300.000 pengikut yang setuju mempromosikan perjalanan mereka di platform media sosial seperti Instagram, YouTube, TikTok, dan X. Namun, perjalanan ini lebih dari sekadar memamerkan makanan dan budaya Asia. Peserta akan mengunjungi perusahaan besar Tiongkok, termasuk pembuat kendaraan listrik BYD dan raksasa e-commerce lainnya.
Di balik layar, berbagai isu seperti kerja paksa, pekerja pabrik yang menderita, pembangkang yang disensor, dan berbagai kerusuhan sosial lainnya tetap tersembunyi di balik tirai besi yang dirancang Beijing.
Para kritikus berkata para influencer ini melihat citra yang dikontrol dengan cermat yang tidak mencerminkan kenyataan. Pengaturan tersebut bertujuan untuk menurunkan kewaspadaan penonton Barat pada ancaman yang ditimbulkan China dan membangun simpati bagi rezim otoriter. Ini bukanlah taktik baru. Ambil contoh iShowSpeed, seorang Youtuber dengan lebih dari 40 juta pengikut. Ia menyiarkan langsung turnya pada bulan Maret, menarik perhatian besar dunia maya dan dipuji-puji oleh media pemerintah China.
Pemain NBA Prancis Victor Wembanyama saat ini juga berada di China untuk liburan 10 hari. Kunjungannya ditampilkan di halaman depan media pemerintah China edisi luar negeri, menyorotinya sebagai duta favorit rezim. China juga merayu penyanyi pop Amerika. Acara kompetisi menyanyi China musim ini, Singer 2025, mengundang empat penyanyi Amerika. Dalam wawancara dengan media pemerintah, penyanyi Mickey Guyton memuji China.
Sebuah lembaga pemikir Australia ASPI memperingatkan dalam laporan tahun 2023 bahwa PKC menggunakan influencer asing untuk menyebarkan narasi partai pada khalayak global.
