Fokus

Pengakuan Mantan Polisi Tiongkok Terkait Penganiayaan Muslim Uighur

Selama bertahun-tahun, Beijing telah dituduh melakukan pelanggaran HAM berat di wilayah Xinjiang, Tiongkok.

Deplu AS mengatakan Beijing telah menahan hingga dua juta orang Uighur dan lainnya, dalam sistem kamp interniran modern.

Untuk pertama kalinya, seorang mantan anggota pasukan keamanan Tiongkok angkat bicara.

Dia mengatakan, dia diperintahkan untuk secara rutin menangkap dan menyiksa tahanan Uighur.

Peringatan untuk pemirsa, laporan ini berisi deskripsi grafis tentang kekejaman dan kekerasan seksual.

Abduweli Ayup, mantan tahanan di Xinjiang: “Menyentuhkan tongkat listrik di sini dan rasanya seperti terbakar.”

Ini adalah kisah tentang seorang korban, dan penyiksa yang mengaku sendiri.

Ivan Watson, koresponden CNN: “Apakah petugas polisi menggunakan tongkat listrik untuk menyetrum tahanan?”

Jiang, mantan polisi Tiongkok: “Ya….Setiap orang menggunakan metode yang berbeda.”

Selama bertahun-tahun, kisah-kisah tentang penangkapan sewenang-wenang, kekejaman tak terkatakan, dan kamp-kamp interniran massal. Telah mengucur keluar dari wilayah Xinjiang, Tiongkok.

Testimoni dari orang-orang seperti Abduweli Ayup.

Watson: “Ketika Anda ditahan pada tahun 2013, apa pekerjaan utama Anda?”

Ayup: “Guru TK.”

Abduweli mengatakan, polisi membawanya dari TK berbahasa Uighur-nya.

Ayup: “Memakaikan tudung hitam di wajah saya. Mereka memasukkan saya ke dalam,… ini adalah ruang interogasi, dan di dalam kerangkeng besi, ada ‘kursi harimau’. Pergelangan tangan Anda dibelenggu di sana, dan kaki Anda juga dibelenggu.”

Dia berkata, polisi menuduhnya sebagai mata-mata, merencanakan penentangan terhadap pemerintah Tiongkok, serta kejahatan separatisme, dan mereka menuntut sebuah pengakuan.

Ayup: “Anda mengaku saja. Anda hanya mengakui apa yang telah Anda lakukan, itu baik untuk Anda.”

Kini, untuk pertama kalinya, CNN telah berbicara dengan mantan polisi Tiongkok, yang mengklaim, pekerjaannya adalah menangkap dan mencari pengakuan dari etnis Uighur, di Xinjiang.

Jiang: “Beberapa polisi akan berperan sebagai polisi yang baik. Dan beberapa berperan sebagai polisi jahat. Setelah kami memukuli mereka, kami akan menawari mereka rokok.”

Watson: “Apakah kadang-kadang Anda harus menjadi polisi yang jahat?”

Jiang: “Tentu saja.”

Pria ini, yang meminta untuk disebut sebagai “Jiang” mengatakan dia bekerja lebih dari 10 tahun sebagai polisi.

Sebelum meninggalkan Tiongkok, setelah kekecewaan yang terus bertambah, kepada Partai Komunis yang berkuasa.

Saya bertemu dengannya di sebuah negara Eropa.

Dia mengenakan seragam polisinya untuk mengotentikasi ceritanya.

Tapi tidak ingin diidentifikasi untuk melindungi dirinya, dan kerabatnya yang masih di Tiongkok.

Watson: “Untuk membuktikan bahwa dulu dia adalah seorang petugas polisi Tiongkok, Jiang menunjukkan banyak foto berbagai lencana polisi, sertifikat pelatihan, bahkan potret kelas kelulusannya di akademi kepolisian. Gambar-gambar yang tidak dapat kami tampilkan di televisi karena mereka akan mengungkapkan identitasnya.”

Jiang mengatakan dia dikirim dari provinsi asalnya untuk bekerja di Xinjiang sedikitnya tiga kali.

Dimana selama itu dia diperintahkan untuk menangkap ratusan tersangka, yang semuanya etnis Uighur.

Watson: “Bagaimana interogasinya dilakukan?”

Jiang: “Pukul mereka. Tendang mereka. Pukul mereka hingga memar dan bengkak. Benturkan kepala mereka ke radiator. Polisi akan menginjak wajah tersangka dan menyuruhnya untuk mengaku.”

Jiang mengatakan beberapa tersangka, adalah semuda 14 tahun, dan semua tahanan dipukuli.

Watson: “Apakah tersangkanya, semuanya laki-laki?”

Jiang: “Laki-laki dan perempuan.”

Watson: “Apakah Anda menyaksikan wanita dipukuli?”

Jiang: “Ya.”

CNN tidak bisa mengonfirmasi secara independen yang dituduhkan Jiang, begitu juga yang dituduhkan Abduweli, sang guru TK.

Yang mengatakan, selain pemukulan, dia diperkosa pada malam pertama penahanannya, oleh tahanan Tiongkok yang mengikuti perintah penjaga penjara.

Ayup: “Itu sangat buruk.”

Watson: “Ini adalah tahanan lain yang melakukan pelecehan seksual terhadap Anda?”

Ayup: “Ya para tahanan.”

Watson: “Lebih dari satu?”

Ayup: “Lebih dari satu… Pertama mereka mengelilingi saya dan polisi di sana memerintahkan saya untuk melepas pakaian dalam saya, dan seperti.”

Watson: “Membungkuk.”

Ayup: “Membungkuk. Jangan lakukan ini! Jangan lakukan ini! Saya menangis. Tolong jangan lakukan ini. Dan kemudian salah satu, saya tidak tahu, memegang tangan saya seperti ini.”

Jiang, polisi yang meninggalkan Tiongkok menjelaskan grafis dengan detail, metode penyiksaan seksual, yang dia bilang digunakan polisi.

Jiang: “Jika Anda ingin orang mengaku, Anda menggunakan tongkat listrik. Kami akan mengikat dua kabel listrik di ujungnya dan memasang kabel di alat kelamin mereka sementara orang itu diikat. Hasilnya lebih baik.”

Dia juga mengatakan, polisi kadang memerintahkan tahanan untuk melakukan kekerasan seksual terhadap tahanan lain.

Jiang: “Kami menyebutnya ‘penyelidikan di dalam penjara'”.

Pemerintah Tiongkok bersikeras, pihaknya memerangi ekstrimis keras di Xinjiang.

Beijing juga menyangkal, ada pelanggaran HAM apapun, yang terjadi di sana.

Zhao Lijian, jubir Kemenlu Tiongkok: “Saya ingin menegaskan kembali bahwa apa yang disebut genosida di Xinjiang hanyalah rumor yang didukung oleh motif tersembunyi dan kebohongan terang-terangan.”

Jiang, sang polisi pengungkap, mengatakan dia mendapat dua kali lipat gaji normalnya untuk bergabung dengan puluhan ribu polisi lain yang dikirim ke Xinjiang, sebagai bagian dari tindakan keras pemerintah.

Watson: “Berapa banyak orang yang Anda tangkap di Xinjiang, yang menurut Anda sebenarnya adalah ekstremis yang keras?”

Jiang: “Tidak ada.”

Watson: “Tidak ada?!”

Jiang: “Xinjiang bukan zona perang. Dan orang-orang itu adalah sesama warga negara kami, bukan musuh asing.”

Watson: “Jika Anda tidak melakukan penangkapan, apa yang akan terjadi pada Anda?”

Jiang: “Kalau begitu saya akan ditangkap juga. Karena itu berarti saya juga bagian dari organisasi teroris. Saya menjadi ‘musuh’ mereka.”

Abduweli berkata, setelah 15 bulan dalam penahanan, dia mengakui penggalangan dana ilegal dan dibebaskan.

Dia kemudian meninggalkan Tiongkok.

Sejak itu dia berkata, beberapa kerabatnya telah ditahan, termasuk keponakannya, Mihray.

Watson: “Dimana keponakan Anda ditahan?”

Ayup: “Fasilitas penahanan yang sama, dimana saya pernah tinggal. Saya tidak tahu bagaimana dia meninggal. Saya bahkan tidak tahu… Dia adalah, dia adalah yang pertama saya gendong. Dia bayi pertama yang saya gendong dalam hidup saya. Dia seperti anak perempuan saya.”

Sebagai tanggapan dari pertanyaan tertulis CNN, pemerintah Xinjiang menyangkal bahwa Mihray meninggal dalam penahanan.

Mengatakan bahwa wanita berusia 30 tahun itu justru, meninggal karena gagal organ akibat anemia parah setelah dirawat di rumah sakit.

Setelah menderita penyakit yang tak diketahui.

Pemerintah Tiongkok tidak menjawab pertanyaan tertulis terkait tuduhan, yang dibuat sang mantan polisi.

Abduweli kini tinggal di Norwegia bersama keluarganya, dan mempublikasikan buku anak-anak yang ditulis dalam bahasa Uighur.

Dia menegaskan, dia bisa memaafkan orang yang memenjarakan dan menyiksanya.

Ayup: “Saya tidak membenci mereka. Karena mereka semua, adalah korban dari sistem itu.”

Watson: “Jika Anda bertemu salah satu tahanan ini, apa yang akan Anda katakan pada mereka?”

Jiang: “Saya takut …. Saya akan segera pergi.”

Watson: “Kenapa?”

Jiang: “Bagaimana saya menghadapi orang-orang ini? Anda akan merasa bersalah. Bahkan jika Anda hanya seorang tentara, Anda masih bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Ya, Anda harus menjalankan perintah, tapi begitu banyak orang melakukan hal ini bersama-sama. Kami bertanggung jawab untuk ini.”

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI