Fokus

Penyesalan Kanselir Jerman atas Kebijakan Terkait Tiongkok-nya

Kanselir Jerman, Angela Merkel baru-baru ini mengakui, bahwa beberapa kebijakan Tiongkok-nya mungkin perlu dipertimbangkan kembali.

Dia menyatakan penyesalannya dalam sebuah wawancara dengan Reuters, mengatakan: “Mungkin awalnya kami agak terlalu naif dalam pendekatan kami terhadap beberapa kemitraan kerja sama.

Belakangan ini kami melihat lebih dekat, dan memang demikian.”

Selama 16 tahun Merkel menjabat, perdagangan dengan Tiongkok telah menjadi prioritas utama.

Itu bahkan di tengah kekhawatiran taktik persaingan tidak sehat Tiongkok, dan spionase industri.

Untuk mempromosikan hubungan ekonomi dengan Tiongkok, pada tahun 2013, Merkel menentang tarif anti-dumping Uni Eropa pada panel surya Tiongkok.

Dan pada tahun 2014, Merkel meningkatkan hubungan Jerman dengan Tiongkok menjadi kemitraan strategis yang komprehensif, hubungan bilateral tingkat tertinggi.

Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar Jerman pada 2016.

Dan Jerman sejauh ini merupakan eksportir UE terbesar ke Tiongkok.

Tapi pendekatan yang didorong oleh ekonomi ini, telah memprioritaskan ‘perdagangan dengan Beijing’ di atas catatan HAM domestiknya, dan berdampak pada ketegasan komunitas internasional.

Akibatnya, Merkel berhati-hati untuk menghindari konfrontasi terbuka dengan Beijing.

Banyak yang mengkritik lambat, dan terkadang diamnya Merkel, untuk menanggapi tindakan Beijing di Xinjiang dan Hong Kong.

Dia juga menghindari secara terbuka mengutuk penggunaan sanksi Tiongkok terhadap akademisi Jerman pada bulan Maret.

Sebelumnya pada bulan September, Menhan Jerman mengirimkan sebuah fregat Jerman ke Indo-Pasifik untuk menunjukkan komitmen negara tersebut terhadap ‘kebebasan navigasi’ di Laut Tiongkok Selatan.

Merkel dilaporkan juga ingin kapal itu berhenti di Shanghai, sehingga tidak terlihat memihak, namun Beijing menolak permintaan mereka.

Saat Beijing menjadi semakin agresif dalam sistem internasional, nada terhadap Tiongkok di tingkat Eropa, menjadi lebih keras.

Pada 2019, sebuah buku putih UE menyebut Tiongkok sebagai “saingan sistemik.”

Negara-negara Eropa lainnya, seperti Inggris dan Lituania, telah mengambil pendekatan yang lebih kuat dalam menanggapi intimidasi yang semakin intensif dari Beijing.

Seorang anggota parlemen Jerman yang baru terpilih tampaknya tidak begitu naif, dalam menghadapi lobi dari Tiongkok.

Erik von Malottki memposting video di akun Twitternya yang mengatakan dia berurusan dengan surat lobi, termasuk undangan dari raksasa telekomunikasi Tiongkok Huawei, untuk sarapan.

Jawabannya sangat sederhana: dia menghancurkannya.

Di akhir video, dia mengatakan kepada pelobi untuk datang ke kantornya untuk berbicara, demi transparansi.

AS melabeli Huawei sebagai risiko keamanan nasional, dan telah memasukkannya ke dalam daftar hitam perdagangan.

Itu karena hubungan perusahaan tersebut dengan rezim Komunis Tiongkok.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI