Fokus

Perlombaan Senjata Negara-Negara Indo-Pasifik

Tiongkok meningkatkan kekuatan militernya, dan negara-negara lain di kawasan itu tidak melihat jalan keluar lain, selain mengejar ketinggalan.

Ketegangan meningkat, menuju perlombaan senjata di seluruh Asia.

Dan ketika presiden AS dan Tiongkok bertemu di KTT virtual minggu ini, Taiwan menjadi topik hangat.

Presiden AS, Joe Biden dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, bertemu secara virtual minggu ini.

Saat dunia menghadapi, seperti para analis sebut, ancaman yang berkembang.

‘Perlombaan senjata’ yang semakin intensif di seluruh Indo-Pasifik.

Titik nyala potensial di seluruh wilayah meningkatkan risiko konflik nuklir, mengancam AS, sekutunya, dan dunia.

“Jika Anda memiliki konflik serius, Anda bisa berakhir dengan penggunaan senjata nuklir. Dan kita tidak berbicara tentang bom atom, kita berbicara tentang bom hidrogen. Dan ini adalah tingkat peperangan yang sama sekali berbeda.”

Kekuatan nuklir paling asertif di dunia? Tiongkok.

Gambar satelit baru menunjukkan kemungkinan Beijing sedang membangun silo rudal berkemampuan nuklir, menguji lebih banyak rudal balistik daripada gabungan seluruh dunia, kata Pentagon.

Termasuk apa yang AS sebut sebagai senjata hipersonik yang berpotensi ‘mengubah permainan’, sebuah klaim yang dibantah Tiongkok.

Angkatan laut Tiongkok, sekarang yang terbesar di dunia, dengan catatan, kebanyakan kapal perang mereka adalah kecil, tapi mereka semakin besar.

Sebuah kapal induk baru di Shanghai dapat diluncurkan awal tahun depan dengan teknologi yang menyaingi armada kapal induk AS yang lebih besar dan lebih maju.

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan AL Tiongkok untuk menimbulkan ancaman yang kredibel bagi AL amerika?”

“Saya pikir mereka masih membutuhkan banyak waktu.”

“Apakah kita bicara bertahun-tahun ataukah beberapa dekade?”

“20 hingga 30 tahun.”

Mock up ukuran penuh kapal perang AS terlihat di gurun, di Xinjiang, mungkin untuk latihan sasaran, kata para analis.

Tiongkok juga meregangkan otot terbangnya, menerbangkan pesawat tempur di dekat Taiwan dalam jumlah rekor.

Para pemimpin pulau itu memperingatkan, ketegangan lintas selat berada pada level tertinggi dalam 40 tahun.

Taiwan bergegas untuk memodernisasi militernya, kapal baru, lebih banyak rudal, miliaran dolar dalam senjata buatan Amerika.

Semua untuk berjaga-jaga terhadap invasi.

Menhan Taiwan mengatakan, itu mungkin terjadi pada tahun 2025.

Sebuah perang yang dapat melibatkan AS dan sekutu demokratis lainnya, kata presiden taiwan Tsai Ing-wen kepada CNN bulan lalu, dalam wawancara eksklusif berikut.

“Apakah strategi Taiwan, adalah untuk mencoba bertahan dalam jangka waktu tertentu, sebelum negara lain dapat membantu?”

“Kami pasti ingin membela diri kami, selama kami bisa. Tapi izinkan saya mengulangi, penting bahwa kami mendapat dukungan dari teman-teman kami.”

Teman terdekat Taiwan, setidaknya secara geografis, Jepang. Memberi isyarat dukungan untuk Taipei, peringatan terselubung untuk Beijing.

“Apa yang bisa terjadi di Taiwan kemungkinan besar akan menjadi masalah bagi Jepang, yang mana dalam hal ini, Jepang perlu menanggapi dengan sesuai.”

Jepang sedang menggelar latihan militer terbesarnya dalam beberapa dekade.

Memindahkan rudal, radar, dan pasukan ke pulau-pulau Selatannya, sekitar 100 mil dari pantai Taiwan.

Mengirim kapal ke Laut Tiongkok Timur, tempat sengketa wilayah dengan Tiongkok.

Jepang juga menghadapi ancaman dari rudal Korea Utara.

Pyongyang diyakini meningkatkan produksi uranium untuk persenjataan nuklirnya yang terus berkembang.

Korea Selatan mempercepat pengembangan senjatanya sendiri, termasuk rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam.

Australia akan mendapatkan kapal selam bertenaga nuklir, sebagai bagian dari kesepakatan dengan AS dan Inggris untuk melawan ekspansi cepat Tiongkok, yang memiliterisasi pulau-pulau buatan, di Laut Tiongkok Selatan.

Pembangunan militer lain di Himalaya, lokasi bentrokan perbatasan mematikan tahun lalu antara Tiongkok dan India, – negara lain dengan senjata nuklir.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI