Fokus

Permohonan dari Ibu Pembela HAM di Tiongkok

Seorang pembela HAM Tiongkok dijatuhi hukuman 12 tahun penjara. Ibunya, mendekati 90, dalam kesehatan yang buruk. Dia meminta untuk bertemu dengan putra satu-satunya beberapa kali, tapi selalu ditolak. Dia bilang dia berharap dia akan melihat putranya, setidaknya sekali lagi, saat dia masih hidup.

Ibu dari seorang pembela HAM Tiongkok memberikan dukungannya dalam sebuah pesan untuknya, mengumumkan: “Huang Qi, putraku, Ibu percaya kamu tidak bersalah.” Otoritas Tiongkok telah memenjarakan dan menyiksa Huang Qi selama lebih dari 5 tahun, karena dia melaporkan pelanggaran HAM di Tiongkok.

Pu Wenqing, Ibu dari pembela HAM Huang Qi: “Saya tidak dapat menemukan berita apapun (tentang putra saya). Bagaimanapun juga, saya tidak dapat memperoleh persetujuan untuk melihat putra saya. Saya juga meminta Biro Keamanan Umum Neijiang untuk mengunjungi Penjara Bazhong. Mereka tidak mengijinkannya. Selain itu, pengacara yang disewa Huang Qi, lisensi pengacaranya dicabut.”

Ibu Huang Qi, Pu Wenqing, hampir berusia 90 tahun. Dia berkata, setiap kali dia meminta untuk bertemu dengan putranya, dia diberi tahu bahwa sistem komputer sedang ditingkatkan atau tidak berfungsi. Jadi dia tidak bisa menjadwalkan waktu untuk bertemu. Kemudian, dia meminta untuk berbicara dengan putranya di telepon, tapi itu juga ditolak.

Setelah Huang Qi ditangkap, Pu terus memohon untuk pembebasannya. Sejak 2019, otoritas setempat telah menempatkan Pu di bawah tahanan rumah, dan melarang pengunjung. Dia juga mengalami kekerasan fisik.

Pu: “Pada hari-hari itu, saya tidak punya tempat untuk meminta bantuan. Tidak ada yang berani berbicara dengan saya. Itu tak tertahankan. Selama saya keluar, seseorang selalu mengikuti saya, bahkan ke dalam bus.”

Pu berkata, dia telah didiagnosis dengan gagal jantung. Dia tidak bisa makan atau tidur dengan baik.

Pu: “Saya menemui dokter baru-baru ini. Jantung saya tidak sehat sekarang. Saya pikir musim dingin ini akan sulit bagi saya karena saya mengalami gagal jantung. Saya hanya ingin melihat Huang Qi sebelum saya mati.”

Pu juga mengatakan awal bulan ini (5 Nov), otoritas setempat menetapkan tiga batasan untuknya.

Pu: “Pertama, saya tidak diizinkan pergi ke Beijing (untuk mengajukan petisi), kedua, saya tidak dapat menerima wawancara dari media mana pun, dan ketiga, saya tidak diizinkan untuk menyewa pengacara hak asasi manusia.”

Huang Qi adalah pendiri situs berita hak asasi manusia Tiongkok, yang dinamai seperti tanggal “4 Juni”. Tanggal ini menyinggung Pembantaian di Lapangan Tiananmen di Beijing, selama gerakan mahasiswa pada tahun 1989. Situs ini berbicara untuk para korban pembantaian, dan untuk kelompok lain yang telah dibungkam di Tiongkok. Huang telah berturut-turut menyewa 3 pengacara pembela, tapi semua lisensi pengacara mereka dicabut setelah membelanya.

Lebih dari 30 tahun telah berlalu sejak pembantaian di lapangan Tiananmen. Apa sikap resmi rezim Tiongkok tentang masalah ini?

Sebuah resolusi dari pertemuan besar pejabat Partai Komunis Tiongkok, yang diterbitkan pada hari Selasa, menunjukkan tidak ada perbedaan dalam pendekatan mereka, itu mengatakan: pada tahun 1989, “dukungan dan hasutan kekuatan musuh terhadap komunisme dan sosialisme di dunia” menyebabkan gangguan politik yang serius di Tiongkok. Dan memuji PKT untuk, “menentang kerusuhan dengan pendirian yang jelas, membela kekuatan negara sosialis, dan menjaga kepentingan fundamental rakyat.”

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI