Fokus

Pernyataan Putri Sekretaris Mao Zedong tentang Partai Komunis Tiongkok

Dia termasuk orang pertama yang bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok, termasuk yang pertama yang dianiaya oleh PKT, dan termasuk yang pertama yang menyadari sifat asli PKT.

Dalam wawancara eksklusif ini, putri seorang anggota senior PKT menceritakan perjalanan dirinya dan Ayahnya dalam menemukan kebenaran tentang partai komunis.

Bagaimana rasanya ketika idealisme yang mana telah Anda dedikasikan seluruh hidup Anda ke dalamnya, ternyata adalah sebuah kebohongan.

Dalam sebuah wawancara dengan program bahasa Mandarin NTD,  Focus Talk, Li Nanyang, putri sekretaris pribadi Mao Zedong, membagikan tentang bagaimana dia mengubah pandangannya tentang Partai Komunis Tiongkok.

Perubahan itu muncul melalui pengalaman hidup dan refleksi yang menyakitkan.

Ayah Li, Li Rui, adalah salah satu anggota Partai Komunis paling senior.

Tapi semua itu berubah, ketika dia mengkritik Mao untuk tanggung jawabnya atas “Lompatan Jauh ke Depan” yang membawa bencana.

Gerakan politik tersebut menyebabkan kelaparan luas yang menewaskan lebih dari 35 juta orang Tiongkok.

Kritikan Li menyebabkan dia diusir dari partai dan dijebloskan ke penjara.

Dia menghabiskan delapan tahun di sel isolasi.

Setelah kematian Mao, Li kembali ke lingkaran pusat kekuasaan partai, tapi dia kembali ditekan.

Itu setelah dia mendesak PKT untuk tidak menggunakan kekuatan militer, terhadap para mahasiswa pengunjuk rasa tak bersenjata, di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989.

Itu adalah insiden yang sama, yang untuk pertama kalinya, membuat putrinya mempertanyakan keyakinannya pada PKT.

Dia sedang bekerja di Amerika Tengah pada saat itu.

Li: “Jadi ketika saya pertama kali mendengar dan membaca tentang insiden Lapangan Tiananmen, itu adalah melalui media Barat. Dan itu sangat mengejutkan dan saya tidak dapat menerima bahwa itu terjadi. PKT telah menganiaya keluarga saya selama bertahun-tahun, dan Ayah saya menghabiskan 20 tahun di penjara. Meskipun demikian, saya masih merasa bersemangat tentang negara saya dan ingin membuat perbedaan. Tapi saya tidak bisa mentolerir pembantaian PKT terhadap rekan senegara saya. Jadi, saya menelepon seorang insinyur Amerika yang saya kenal, dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak lagi mau bekerja untuk PKT, dan bertanya apakah dia dapat mencarikan saya pekerjaan di AS.”

Li kemudian bekerja di Standard University dan kemudian University of California, Berkeley sebagai insinyur.

Saat itulah dia mulai memilah-milah buku harian Ayahnya dan catatan lain tentang sejarah awal PKT, dan secara bertahap mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang partai tersebut.

Li: “Saya ingat memeriksa tumpukan itu dan saya menemukan sepucuk surat dari Ibu untuk Ayah saya. Sangat romantis. Ini mengejutkan karena saya tidak tahu kalau Ibu saya pernah sangat menyayanginya. Yang saya tahu adalah mereka secara politis saling mencekik satu sama lain, dan Ibu saya biasa memberitahu saya bahwa, Ayah saya adalah musuh yang tidak dapat dibebaskan.“

Ketika ayah Li dianiaya, Ibunya takut dia sendiri akan terlibat.

Untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak berwenang dan menghindari hukuman, dia melaporkan banyak dari apa yang disebut “kelakukan buruk” suaminya, ke PKT.

Li: “Setelah saya membaca surat dan buku harian orangtua saya, saya sangat terkejut. Saya mulai memahami mengapa para orangtua kemudian berubah menjadi bermusuhan satu sama lain. Revolusi Komunis menghilangkan perasaan manusia serta rasa kemanusiaan mereka.”

Li juga mengetahui tentang sejarah pembunuhan PKT.

Li: “Ketika saya memeriksa catatan pekerjaan Ayah saya, itu benar-benar membuat saya takut. Partai Komunis membunuh sangat banyak orang. Awalnya, mereka membunuh rakyatnya sendiri. Selama periode Anti-Bolshevik, PKT baru saja didirikan, PKT mengadu domba orang satu sama lain. Dan kemudian selama reformasi tanah, mereka pada dasarnya membantai orang-orang. Mereka sama sekali tidak peduli dengan nyawa manusia sedikitpun. Bahkan Hu Yaobang, seseorang yang dianggap ‘baik’ di antara PKT, berkata kami ‘harus’ membunuh mereka untuk mengatasi kemarahan orang-orang. Dunia mereka berputar di sekitar satu kata tunggal, ‘bunuh.'”

Li mengatakan banyak penelitian di Barat tentang Partai Komunis sering kali menyerupai arkeologi, tanpa perspektif tentang bagaimana rezim komunis beroperasi.

Li: “Mereka memilih subjek yang sempit, dan mulai menggali. Mungkin saya tidak sopan, bagi banyak peneliti, ini adalah tentang menyelesaikan tesis Ph.D. mereka, atau mendapat tawaran posisi mengajar. Apa yang gagal mereka lihat adalah, bagi kami yang tahu seperti apa hidup di bawah rezim komunis, kebencian kami terhadap sistem itu sangat mendalam, karena telah menyebabkan penderitaan yang tak terkatakan bagi kami.”

Dia mengatakan orang harus belajar dengan harapan bahwa tragedi yang sama tidak akan terulang kembali, dan menganjurkan agar Barat tidak terlibat dengan Beijing.

Li: “Anda akan diubah olehnya. Ini sama dengan mencampurkan air jernih dan air keruh. Setelah bersentuhan dengan air yang keruh, air yang jernih akan menjadi keruh, Anda tidak akan lagi menjadi jernih. Saya pikir ini adalah sesuatu yang gagal dipahami oleh kaum sosialis di Barat.”

Ayahnya meninggal di Beijing pada tahun 2019.

Bertentangan dengan keinginannya, PKT menguburkannya di pemakaman yang diperuntukkan bagi anggota komunis tingkat tinggi dengan bendera merah komunis di peti matinya.

Putrinya memboikot pemakaman itu, namun tidak berhasil.

Dalam wawancara dengan BBC pada 2017, Li mengungkapkan alasan dibalik keputusan hidup sulitnya.

Li Rui: “Ketika perikemanusiaan bertentangan dengan semangat Partai Komunis, saya bersikeras untuk menjunjung tinggi kemanusiaan.”

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI