Fokus

Perseteruan Antar Faksi di Internal PKT Mungkin Mengalami Peningkatan

Awal bulan ini, regulator Tiongkok mengumumkan bahwa mereka akan mengambil alih 9 institusi keuangan dan mengambil kendali dari, lebih dari 100 miliar Dolar aset, dengan alasan pelanggaran aturan keuangan.

Tapi ini bukan kisah biasa Anda tentang pemerintah yang membersihkan aktor-aktor jahat di pasar, sama seperti “perusahaan payung” dari sembilan perusahaan, Tomorrow Holdings, juga bukan bisnis pribadi Anda yang biasa.

Faktanya, komentator mengatakan bahwa langkah otoritas itu menandakan peningkatan tajam terkait pertikaian antara faksi yang berbeda di dalam Partai Komunis Tiongkok, menunjukkan seberapa dalam krisis yang dihadapi pemimpin Komunis, Xi Jinping saat ini.

Dalam sebuah kasus yang langka, pembangkangan dari tindakan otoritas secara publik, Tomorrow Holdings mengecam regulator di media sosial.

Postingan Wechat yang kemudian dihapus itu, mempertanyakan motif pengambilalihan tersebut, dan bahkan menyatakan kemungkinan “perdagangan uang dan kekuasaan” di belakangnya.

Seorang komentator urusan Tiongkok mengatakan bahwa kasus-kasus bisnis swasta, yang secara terbuka menuduh pihak otoritas sangat langka terjadi di Tiongkok, itupun jika ada.

Tang Jingyuan, analis Tiongkok: “Keputusan untuk mengambil alih perusahaan Anda dibuat oleh Partai, jika Anda mencoba untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut, lembaga yang melihat banding juga patuh pada Partai. Itulah sebabnya di bawah sistem PKT, seringkali orang-orang tidak melawan sama sekali. Karena mereka tahu perlawanan apapun akan tidak berguna. Fakta bahwa Tomorrow Group berani melakukannya, berarti ada kekuatan yang lebih kuat di belakangnya.”

Pendiri Tomorrow Group adalah Xiao Jianhua.

Salah satu orang Tiongkok terkaya, berusia 48 tahun yang menjadi berita utama internasional pada 2017, ketika dia diculik dari sebuah hotel Hong Kong oleh petugas keamanan Tiongkok daratan.

Xiao dikirim kembali ke Tiongkok dengan diikat ke kursi roda dan kepalanya ditutup.

Insiden itu menyebabkan beberapa tekanan negatif pada saat itu bagi rezim Tiongkok.

Sebelum undang-undang keamanan nasional diberlakukan tahun ini, petugas Tiongkok daratan secara resmi tidak diizinkan beroperasi di wilayah semi-otonom Hong Kong.

Menurut laporan Reuters, bagian dari alasan mengapa Beijing mendorong RUU ekstradisi di Hong Kong tahun lalu adalah untuk menghindari rasa malu jika hal semacam itu terjadi lagi.

Undang-undang tersebut memicu protes berkepanjangan yang menyeret Hong Kong ke dalam kekacauan politik, yang masih berlangsung sampai sekarang.

Jadi siapa Xiao Jianhua ini, dan mengapa dia begitu penting, hingga mendorong Beijing mengambil langkah drastis di Hong Kong, untuk menangkap orang-orang seperti dia.

Tomorrow Group yang didirikan Xiao, sebagian besar dibangun di atas industri keuangan, yang sangat terbatas, sangat mahal untuk masuk, dan sebagian besar sektornya didominasi oleh negara, di Tiongkok.

Misalnya, untuk membuka bank swasta di Tiongkok, seseorang harus memiliki setidaknya 300 juta Dolar sebagai modal terdaftar.

Dan itu belum termasuk biaya puluhan juta Dolar untuk mengajukan izin keuangan.

Meskipun berasal dari latar belakang yang sederhana, Xiao mampu mengendalikan, di usia 40-an, sebuah kerajaan bisnis dengan lebih dari 17 bank, 9 perusahaan asuransi, dan banyak perusahaan sekuritas, perwalian, serta dana.

Lembaga keuangan yang dikendalikan oleh “Tomorrow Holdings” memiliki aset lebih dari 400 miliar Dolar.

Tetapi kekayaan itu tidak semua adalah miliknya, sebagian besar adalah milik keluarga elit Partai Komunis.

Tang: “Dia seperti pengurus rumah, seorang agen, di Tiongkok daratan orang seperti itu disebut ‘sarung tangan putih.'”

Secara resmi, pejabat komunis Tiongkok dan kerabat mereka tidak diizinkan melakukan bisnis.

Tampaknya itu tidak masalah di tahun 60an atau 70an karena seluruh negara tidak punya banyak uang.

Namun karena rezim memulai reformasi dan keterbukaan pada 1980-an, para pejabat mulai menyadari bahwa meskipun mereka memiliki banyak kekuasaan, mereka tidak dapat “menguangkannya” menjadi kekayaan.

Tang: “Jadi pejabat dan kerabat langsung mereka akan menemukan orang yang dapat dipercaya untuk bertindak atas nama mereka, untuk membuka perusahaan dan melakukan bisnis, dan menjaga hubungan bisnis.”

Tang mengatakan bahwa itulah saatnya, ketika politik dan bisnis mulai menjadi satu hal.

Tang: “Seorang pejabat dapat menggunakan kekuatannya untuk menyembunyikan perjanjian bisnisnya, dan membuka jalan baginya untuk berbisnis. Begitu pula sebaliknya, dia dapat menggunakan sejumlah besar uang yang dia hasilkan untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya, untuk menyuap dan mendapatkan posisi yang lebih tinggi dan lebih banyak kekuatan. Ini lingkaran setan.”

Dia mengatakan pada akhir 90-an dan awal 2000, ketika rezim memulai reformasi ekonominya untuk mengalihkan perusahaan yang dikelola negara ke perusahaan swasta, banyak keluarga elit komunis menjadi kaya dengan menggunakan sarung tangan putih, atau pencuci uang, untuk membeli perusahaan public dengan harga yang jauh lebih rendah.

Tang: “Mereka hanya perlu menghabiskan sedikit uang untuk membeli aset public yang bernilai puluhan atau bahkan ratusan kali lebih tinggi, dan mengubahnya menjadi bisnis swasta atas nama mereka. Ini pada dasarnya adalah para pejabat yang memahat aset nasional.”

Dan Xiao Jianhua adalah salah satu sarung tangan putih.

Pada 2006, dia membantu putra pejabat tinggi komunis saat itu, Zeng Qinghong, untuk membeli raksasa energi milik negara di Shandong, Luneng.

Perusahaan itu bernilai sekitar 10 miliar Dolar. Xiao membayar hanya 500 juta.

Kesepakatan lain yang dibuat oleh Xiao termasuk satu kesepakatan pada tahun 2009, mengakuisisi perusahaan real estat yang dimiliki oleh menantu Jia Qinglin, seorang anggota Komite Tetap Politbiro Tiongkok yang kuat pada saat itu.

Dan pada 2013, Xiao membeli saham di sebuah perusahaan investasi yang dipegang oleh saudari perempuan dan ipar pemimpin komunis, Xi Jinping.

Namun terlibat dalam politik di Tiongkok adalah bisnis yang berisiko.

Pada 2017, setelah Xiao diculik dan dibawa ke Tiongkok, mantan profesornya, Yuan Hongbing mengatakan kepada media bahwa Xiao mendapat masalah karena menjadi salah satu tangan yang merancang kudeta keuangan pada 2015.

Para pengamat Tiongkok meyakini bahwa turbulensi keuangan dirancang oleh faksi Jiang Zemin untuk merusak legitimasi Xi Jinping, dan menghentikannya dari melanjutkan kampanye anti-korupsinya, yang merugikan kepentingan banyak keluarga komunis lainnya.

Dalam setengah tahun, lebih dari 5 triliun Dolar tersapu dari kapitalisasi pasar saham Shanghai dan Shenzhen, itu lebih dari PDB Jepang.

Berita utama surat kabar sering ditempati oleh pemilik saham yang bunuh diri.

Itu adalah krisis besar bagi Xi.

Seorang ekonom Tiongkok yang terkenal menulis di Weibo pada waktu itu, bahwa,

“Tanpa desain yang mulus … tidak mungkin untuk menciptakan kudeta finansial dalam waktu sesingkat itu, itu bukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh kekuatan asing.”

Latar belakang itu, dapat menjelaskan mengapa kelompok “Tomorrow” dari Xiao hari ini, berani menantang otoritas saat ini dengan cara yang sedemikian publik.

Tang: “Otoritas saat ini ingin mengambil alih aset-aset tersebut. Ini pada dasarnya merebut kekayaan keluarga elit komunis tertentu. Tentu saja keluarga itu akan melawan balik. Mereka juga merupakan kelompok yang kuat. Jadi mereka mengeluarkan peringatan kepada Xi Jinping. Anda jangan berani melewati batas, karena jika Anda melakukannya, kami akan membuat hidup Anda juga sulit. Kami juga tahu banyak skandal Anda.”

Tang mengatakan, pertikaian partai di masa lalu sering mengikuti prinsip dasar “Bertarung tanpa menghancurkan.”

Tapi sekarang telah mencapai titik di mana untuk mengendalikan keluarga-keluarga elit itu,

Xi menyita uang mereka, sehingga prinsip itu mungkin sedang berubah.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.