Perdana Menteri Jepang Takaichi baru-baru ini menyampaikan kepada parlemen bahwa keamanan Taiwan berkaitan erat dengan keselamatan Jepang, dan China segera bersikap konfrontatif. China menunda pertemuan menteri kebudayaan minggu depan dengan Jepang dan Korea Selatan. Hari Kamis, seorang jubir Kemenlu China berkata komentar Takaichi telah merusak fondasi kerjasama antara ketiga negara.
Di saat yang sama, kementrian China melanjutkan latihan tembak langsung di Laut Kuning dekat Semenanjung Korea, yang semakin meningkatkan ketegangan dengan Jepang dan tampaknya menyeret Korea Selatan dalam perselisihan.
China meningkatkan tekanan pada Jepang, minggu ini di Majelis Umum PBB duta besar China menyatakan Jepang sama sekali tidak memenuhi syarat bergabung dengan Dewan Keamanan sebagai anggota tetap, yang adalah serangan langsung pada Tokyo.
Di China, agen perjalanan juga membatalkan berbagai tur grup dan individu ke Jepang. Sichuan Airlines baru saja mengumumkan akan membatalkan semua penerbangan langsung antara Chengdu dan Hokkaido mulai Januari hingga Maret tahun depan. Makanan laut Jepang juga dilaporkan diblokir di bea cukai China. Namun kepala sekretaris kabinet Jepang mengatakan mereka belum menerima pemberitahuan resmi dari China dan akan terus berdialog.
Duta Besar AS untuk Jepang, George Glass, mengecam langkah Beijing sebagai paksaan dan menekankan bahwa AS mendukung Jepang. Sementara itu, di Taiwan, Presiden Lai Ching-te mengunggah makan siangnya pada Kamis, yaitu sepiring sashimi Jepang, Kagashima, ekor kuning, dan kerang Hokkaido dengan sentuhan Taiwan. Ia berkata, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menikmati makanan Jepang”, menunjukkan jelas solidaritas Taiwan pada Jepang.
Awal bulan ini, Perdana Menteri Jepang Takaichi mengatakan pada parlemen bahwa Jepang mungkin akan merespon secara militer jika China menyerang Taiwan. Beijing menuntut agar ia menarik kembali pernyataannya.
[Stephen Nagy, Profesor Politik dan Studi Internasional, Universitas Christian International]:
“Kami pahami bahwa keberhasilan ini meresahkan China. Mereka merasa ia akan jadi perdana menteri berumur pendek dan tidak berhasil, tetapi dengan penampilan kebijakan luar negeri yang sukses ini, mereka merasa ini waktu yang penting untuk mulai memberi tekanan pada Jepang. Saat ia berkomentar bahwa tentang ancaman keamanan bagi Taiwan dan Jepang harus intervensi secara militer, ini kesempatan bagi China untuk meningkatkan tekanan secara ekonomi pada Jepang. Saya rasa kita belum ada di titik puncak, kita baru saja memulai tekanannya pada Jepang.”
Seorang utusan Jepang pergi ke Beijing minggu ini dengan tiga pesan tegas. Pertama, perdana menteri tidak akan mencabut pernyataannya tentang Taiwan. Kedua, berhenti mengklaim Jepang telah menjadi tidak aman, dan itu bukan alasan untuk menakuti turis China. Ketiga, Jepang mengecam keras postingan diplomat China yang mengancam akan memenggal kepala perdana menteri Jepang.
Setelah pertemuan, China merilis foto-foto yang membuatnya tampak seperti Jepang datang untuk meminta maaf. Tokyo langsung mengecam foto-foto tersebut.
[Stephen Nagy, Profesor Politik dan Studi Internasional, Universitas Christian International]:
“Seluruh insiden ini adalah narasi palsu dari luar. Dari sudut pandang China, Partai Komunis China benar-benar telah memberikan narasi pada rakyat bahwa ini adalah contoh lain dari upaya Jepang untuk menindas dan menekan China.”
