Fokus

Perusahaan AS dan Eropa Tinggalkan China Meski Ada Gencatan Tarif

Perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa terus meninggalkan China, meski ada gencatan tarif antara Washington dan Beijing. Stanley Black and Decker adalah produsen peralatan industri asal Amerika. Mereka memindahkan sebagian produksinya ke Meksiko dan berkata akan terus mengalihkan rantai pasokan dari China.

Perusahaan berkata pengurangan 10 poin persentase pada tarif China tidak akan mengubah hasil secara signifikan. Produsen otomotif Polaris juga akan mengurangi 80% pengeluaran untuk pemasok China selama dua tahun ke depan.

Tarif AS telah merugikan Polaris sekitar $90 juta tahun ini. Benjamin Urkin adalah wakil presiden ABC Group. Perusahaannya telah membantu bisnis-bisnis AS untuk memindahkan rantai pasokan dari China ke Vietnam, Malaysia, dan India. Ia memberitahu Wall Street Journal bahwa banyak kliennya memutuskan untuk melakukan diversifikasi di luar China terlepas dari adanya pengurangan tarif.

Nicole Craft Brands juga membuat keputusan yang sama setelah keuntungannya tergerus tarif. Perusahaan itu memproduksi sebagian besar produk seni dan kerajinannya di China. Seorang eksekutif senior perusahaan berkata mereka berencana membangun pemasok baru di luar China, dan bahwa tidak masuk akal untuk menempatkan seluruh produksi mereka di satu negara.

Para pelaku bisnis mengincar pabrik di Vietnam, Meksiko, dan Indonesia. Hubungan AS-China yang tidak stabil membuat banyak bisnis cemas. Produsen sofa kulit, Trade and Troop, akan memindahkan produksinya ke Vietnam tahun ini. Pemiliknya berkata tidak ada yang percaya bahwa ada stabilitas antara China dan AS.

Pembatasan ekspor China juga mendorong berbagai perusahaan Eropa memindahkan rantai pasokannya ke luar China, menurut Kamar Dagang Uni Eropa di China.

Kelompok itu berkata satu dari tiga perusahaan anggota ingin mengalihkan sumber dayanya dari China. 40% perusahaan yang menanggapi survei itu berkata China memproses lisensi ekspor lebih rendah dari yang dijanjikan.

Presiden Kamar Dagang berkata kontrol ekspor China telah meningkatkan ketidakpastian bagi perusahaan Eropa yang beroperasi di China, karena itu dapat memperlambat atau mengganggu produksi. Lebih dari 100 perusahaan berpartisipasi dalam survei tersebut, termasuk BMW, Volkswagen, Nokia, dan perusahaan minyak raksasa Prancis, Total Energies.