Fokus

Perusahaan Real Estat Besar Tiongkok Kembali Gagal Bayar

Seorang ahli mengatakan kejatuhan Evergrande mungkin adalah domino pertama dalam keruntuhan ekonomi Tiongkok.

Dia memperingatkan kemungkinan ekonomi Tiongkok, bisa mundur satu atau dua dekade.

Impian Tiongkok yang ambisius dari Xi Jinping mungkin runtuh dalam kejatuhan Evergrande.

Raksasa real estat Tiongkok, Evergrande kembali gagal membayar utangnya tepat waktu.

Tiga obligasi dolar AS Evergrande, dengan total 148 juta dolar, jatuh tempo pada hari Senin.

Namun, tidak ada pembaruan tentang pembayaran bunga Evergrande.

Ini adalah gagal bayar ketiga Evergrande dalam tiga minggu terakhir.

Kekhawatiran meningkat atas gagal bayar sektor real estat Tiongkok, karena banyak pengembang telah menerbitkan obligasi dolar dengan imbal hasil tinggi.

Suku bunga obligasi Evergrande berkisar dari lebih dari 8% hingga hampir 10%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi korporasi AS tertinggi hanya sedikit di atas 3%.

Itu menurut Moody’s, perusahaan pemeringkat kredit obligasi yang berbasis di AS.

Pakar urusan Tiongkok, Hsieh dari Taiwan, mengatakan ini mengkhawatirkan.

Hsieh: “Bunganya sangat tinggi hingga perusahaan hampir tidak mampu membayar. Jika Evergrande jatuh, saya yakin itu domino pertama.”

Saat krisis Evergrande semakin dalam, perusahaan real estat lainnya juga mengalami kesulitan untuk membayar hutang mereka.

Beberapa gagal membayar, beberapa menunda pembayaran mereka.

Dan krisis Evergrande saja, memicu kejatuhan rantai perusahaan, lebih dari 10 perusahaan berada di bawah pengawasan pemerintah.

Itu karena payung Evergrande mencakup banyak industri selain bisnis inti real estatnya.

Termasuk kendaraan energi hijau, pariwisata, keuangan, olahraga, dan industri kesehatan.

Banyak perusahaan yang bermitra dengan Evergrande juga terjebak dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Situasi tersebut mencerminkan perlambatan signifikan sektor real estat Tiongkok.

Hsieh: “Utangnya terlalu besar untuk perusahaan, tapi pada saat yang sama harga saham mereka turun secara signifikan. Ini menciptakan masalah kebangkrutan yang serius.”

Jika Evergrande gagal membayar bunganya dalam masa tenggang 30 hari dari tanggal jatuh tempo pada hari Kamis, Evergrande akan dianggap gagal membayar utangnya.

Hsieh mengatakan, Evergrande adalah badak abu-abu terbesar di Tiongkok, yang membawa ketidakpastian paling besar bagi ekonomi Tiongkok.

Hsieh: “Alasan Tiongkok disebut negara yang kuat, saya percaya itu karena kekayaan besar yang dihasilkan dari real estat. Jika sektor real estat menjadi gelembung besar, dan turun secara signifikan, saya yakin ekonomi Tiongkok mungkin mundur kembali satu atau dua dekade.”

Seorang perwakilan Bank Sentral Tiongkok mengatakan pada hari Jumat (15 Okt), bahwa kesengsaraan utang Evergrande dapat dikelola.

Komentar itu sendiri adalah kejadian yang jarang terjadi, dan kemungkinan adalah tanda, untuk lebih banyak yang akan datang.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI