Site icon NTD Indonesia

Pidato Presiden Trump: Bahas Tarif, Fentanil, Keamanan Nasional AS

Presiden Trump menyampaikan pidato kenegaraannya di hadapan Kongres pada 24 Februari, berdurasi satu jam 50 menit, pidato terpanjang yang pernah ada. Menurut statistik, topik yang paling banyak dibahasnya adalah keamanan nasional, imigrasi dan perbatasan.

[Presiden Trump]:

“Kami memulihkan keamanan dan dominasi Amerika di Belahan Barat, mengamankan kepentingan nasional dan membela negara kita dari kekerasan, narkoba, terorisme, dan campur tangan asing.”

Trump juga berkata aliran fentanil yang melintasi perbatasan telah turun sebesar 56% hanya dalam satu tahun. Di Laut Karibia dan Pasifik Timur, operasi AS melawan perdagangan narkoba telah bergeser secara signifikan. Fokusnya telah beralih dari pencegahan dan penangkapan, ke serangan bersenjata dan penghancuran. Di bawah gugus tugas gabungan militer AS yaitu Operasi Southern Spear, lebih dari 40 operasi serangan telah dilakukan di wilayah tersebut sejauh ini pada 2026.

Bagian terpanjang kedua dari pidato Presiden Trump berfokus pada ekonomi, lapangan kerja, inflasi, dan tarif.

[Presiden Trump]:

“Saya menggunakan tarif ini, menghasilkan ratusan miliar dolar membuat kesepakatan besar bagi negara kita, secara ekonomi maupun keamanan nasional. Semua berjalan dengan baik. Negara-negara yang telah menipu kita selama beberapa dekade sekarang membayar ratusan miliar dolar. Tapi kemudian, empat hari yang lalu, sebuah putusan yang disayangkan dari Mahkamah Agung AS baru saja keluar, putusan yang sangat disayangkan. Namun kabar baiknya adalah hampir semua negara dan perusahaan ingin mempertahankan kesepakatan yang telah mereka buat. Benar, kan Scott? Mengetahui bahwa kekuasaan hukum yang saya miliki sebagai presiden untuk membuat kesepakatan baru bisa jauh lebih buruk bagi mereka, hingga mereka terus berada di jalur sukses yang sama yang telah kita negosiasikan sebelum keterlibatan Mahkamah Agung.”

Meskipun Mahkamah Agung AS memutuskan kekuasaan untuk memberlakukan tarif berada di tangan Kongres, Presiden Trump percaya bahwa undang-undang dan peraturan yang ada sudah cukup. Ia tetap yakin dapat memajukan kebijakan tarifnya tanpa melalui Kongres.