Fokus

Polisi Kembali Menggerebek Surat Kabar Pro-Demokrasi di Hong Kong

Sebuah surat kabar lokal Hong Kong mengalami penahanan tak terduga pada Kamis pagi lalu, saat 500 petugas polisi menggerebek kantor pusatnya.

Ini adalah penggerebekan polisi kedua terhadap properti perusahaan itu, dalam waktu hanya satu tahun.

Berikut adalah rinciannya.

Polisi Hong Kong mengirim lebih dari 500 petugas pada hari Kamis untuk menggerebek kantor pusat Apple Daily.

Mereka menangkap lima direktur surat kabar itu, di bawah Undang-Undang Keamanan Nasional kota – yang disahkan oleh Beijing tahun lalu.

Otoritas menuduh mereka melakukan apa yang mereka sebut: “kolusi dengan negara asing atau elemen eksternal untuk membahayakan keamanan nasional.”

Tuduhan itu membawa hukuman maksimum seumur hidup di penjara.

Pendiri surat kabar tersebut, Jimmy Lai, sudah menjalani hukuman penjara, karena perannya dalam protes pro-demokrasi kota itu, pada tahun 2019.

Ini adalah kedua kalinya kantor pusat media tersebut digerebek, dalam waktu kurang dari setahun.

Pada Agustus 2020, hanya sebulan setelah Undang-Undang Keamanan Nasional berlaku, 200 polisi Hong Kong menggerebek ruang redaksi untuk pertama kalinya.

Steven Butler, menjabat sebagai koordinator Asia di ‘Committee to Protect Journalists’.

Dia menjelaskan dalam sebuah pernyataan:

“Penangkapan lima eksekutif di Apple Daily yang pro-demokrasi hari ini di bawah Undang-Undang Keamanan Nasional Orwellian Hong Kong menghancurkan semua fiksi yang tersisa bahwa Hong Kong mendukung kebebasan pers.”

Penggerebekan terakhir dimulai pagi-pagi sekali atas nama “operasi pencarian”.

Dalam siaran pers terpisah, para pejabat mengungkapkan bahwa rumah para eksekutif, juga digeledah.

Seorang pejabat keamanan nasional kemudian mengonfirmasi bahwa otoritas Hong Kong telah membekukan sekitar $2,5 juta dollar aset dari tiga perusahaan yang terkait dengan Apple Daily.

Pejabat itu juga menyinggung serangkaian 30 artikel Apple Daily dari 2019, yang mendorong sanksi global terhadap Tiongkok.

Mengatakan mereka terkait dengan tuduhan kolusi saat ini.

Undang-undang Keamanan Nasional kota mulai berlaku pada tanggal 30 Juni 2020.

Ini tidak berlaku retrospektif, artinya, undang-undang tersebut tidak berlaku untuk apa pun yang dilakukan sebelum waktu tersebut.

Jadi, tidak jelas mengapa para pejabat sekarang menganggap artikel-artikel itu sebagai bukti.

Penggerebekan di Apple Daily menyebabkan kegemparan di komunitas internasional.

Menlu Inggris berkomentar, bahwa penggerebekan itu menunjukkan bahwa

“Beijing menggunakan Undang-Undang Keamanan Nasional untuk menargetkan suara-suara yang berbeda, bukan untuk menangani keamanan publik.”

Seorang juru bicara Uni Eropa mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa penggerebekan itu

“Lebih lanjut menunjukkan bagaimana undang-undang keamanan nasional digunakan untuk melumpuhkan kebebasan media dan kebebasan berekspresi di Hong Kong.”

Menlu Taiwan memposting kekesalannya di Twitter, dengan mengatakan, “Otoritarianisme mengobarkan perang brutal terhadap Apple Daily Hong Hong, sebuah simbol kebebasan yang sangat terancam di Hong Kong.”

Dia menambahkan, “Saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kemarahan dan kesedihan saya saat menyaksikan tragedi ini.”

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI