Presiden Taiwan Lai Ching-te memiliki pesan untuk Presiden AS: Hentikan China menginvasi Taiwan dan Anda berhak atas nobel perdamaian. Hal ini disampaikan Lai dalam acara The Clay Travis and Buck Sextonpada Senin lalu. mendesak AS untuk terus mendukung Taiwan. Berikut isinya.
[Lai Ching-te, Presiden Taiwan]:
“Jika China berhasil merebut Taiwan, China akan berada di posisi yang kuat untuk bersaing dengan AS dan mengubah tatanan internasional berbasis aturan. Tentunya ini akan berdampak pada kepentingan AS. Kami berharap Presiden Trump terus mendukung kami. Jika beliau bisa meyakinkan Xi Jinping untuk selamanya menarik penggunaan kekuatan terhadap Taiwan, beliau pasti akan memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian.”
Ketika ditanya pesan apa yang ingin disampaikan untuk Presiden Trump jika diberi kesempatan, Lai mengawalinya dengan menyoroti soal meningkatnya agresi militer China yang disebutnya semakin meluas dan intens.
[Lai Ching-te, Presiden Taiwan]:
“Saya akan menyarankan agar beliau mencatat bahwa Xi Jinping tidak hanya menggelar latihan militer besar di Selat Taiwan, tapi juga memperluas mobilisasi militer China di Laut China Selatan dan China Timur, bahkan kini telah meluas di seluruh kawasan Indo-Pasifik. “
Agresi militer China di Indo-Pasifik kian meningkat baik secara frekuensi, intensitas, dan lingkup geografis. Pada awal tahun, universitas Angkatan Udara AS, America’s Air University, menerbitkan evaluasi yang menyebut aktivitas udara dan laut China di sekitar Taiwan sebagai diluar dugaan.
Selain itu, lembaga pemikir CSIS menyatakan bahwa China tengah mempelajari latihan perang dari Rusia, untuk mengejar ketinggalan akibat minimnya pengalaman perang. China dan Rusia kian mempererat hubungan militer, melalui latihan gabungan.
Lai juga memperingatkan bahwa kapal induk China kini telah beroperasi melewati rantai pulau pertama dan kedua. Kapal perang China juga terlihat di sekitar Jepang dan Australia, membuat kedua negara kawasan indopasifik itu waspada.
China baru saja meluncurkan kapal induk ketiganya, Fujian, nama sebuah provinsi terdekat dengan Taiwan. Rick Fisher, seorang pakar di pusat strategi uji internasional berkata penamaan itu bukan hanya intimidasi, tetapi bagian dari rencana perang China.
[Rick Fisher, analis International Assessment and Strategy Center]:
“Nama itu dipilih secara spesifik untuk mengintimidasi dan membayangi penduduk Taiwan. Itu adalah kapal induk yang akan digunakan jika Partai Komunis China memutuskan untuk memulai permusuhan terhadap Taiwan. Sekaligus berfungsi untuk menakut-nakuti seluruh dunia.”
Isyarat terbaru dari Washington agaknya menggambarkan upaya Taiwan untuk memperbarui hubungan. Pemerintahan Trump baru-baru ini memberlakukan tarif 20% atas ekspor Taiwan. Taiwan juga berjanji memindahkan setengah dari produksi chipnya ke AS.
Lai juga menyatakan bersedia membantu AS untuk “melakukan reindustrialisasi dan menjadi pusat global AI.”
