Site icon NTD Indonesia

Propaganda China di Filipina: Akun dan Influencer Palsu Pecah Aliansi AS-Filipina

Laporan terbaru Reuters mengungkapkan Partai Komunis China menjalankan akun media sosial palsu yang menyamar sebagai warga Filipina. Mereka juga membayar pejabat dan influencer untuk menciptakan perpecahan antara AS dan negara kepulauan tersebut. Simak selengkapnya.

Jangan percaya semua yang Anda lihat di media sosial. Partai Komunis China memimpin operasi membuat akun Facebook dan X palsu serta membayar influencer media sosial untuk melemahkan aliansi AS dan Filipina. Demikian menurut laporan terbaru Reuters, yang meninjau dokumen internal dari perusahaan pemasaran China yang berbasis di Filipina bernama Infinitus.

Pihak berwenang Filipina berkata Infinitus dibayar oleh PKC untuk membuat ratusan akun palsu yang menyamar sebagai penulis Filipina dan membuat konten anti-Amerika. Masalah ini menjadi sorotan pada bulan April oleh mantan pejabat tinggi Filipina, Francis Tolantino. Ia menuduh Infinitus dibayar oleh Kedubes China untuk menyebarkan propaganda pro-PKC.

[Francis Tolantino, Mantan Pejabat Tinggi Filipina]:

“Mereka membuat konten media sosial palsu yang menentang kebijakan pemerintah Filipina, berpura-pura termotivasi oleh kekhawatiran akan perdamaian di kawasan tersebut dan memanipulasi serta pada akhirnya menghancurkan kemampuan Filipina untuk melawan China.”

Kenyataannya lebih dari itu. Satu laporan dari November 2024 menemukan bahwa pasukan troll media sosial ini menyebarkan video yang mengecam pengerahan rudal AS ke Filipina. Akun-akun tersebut juga menyebarkan unggahan pro-PKT oleh puluhan tokoh media Filipina, yang semuanya menerima penghargaan dari Asosiasi Pemahaman Filipina-China, sebuah badan yang dibentuk oleh mantan Presiden Filipina Gloria Arroyo dan sebuah badan Partai Komunis China.

Filipina adalah lokasi strategis bagi Washington dan Beijing, karena kedekatannya dengan Taiwan. PKC telah mengancam akan menginvasi Taiwan pada 2027, yang mana AS telah berjanji untuk membela kepentingannya. Tetapi para pejabat AS berkata hal ini dapat menyebabkan depresi ekonomi di seluruh dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, China semakin agresif di kawasan ini dengan kapal-kapal militernya yang menyeruduk kapal-kapal penjaga pantai Filipina, menembakkan meriam air dan bahkan menghalangi mereka untuk melakukan pasokan ulang. Jack Bradely, NTD News.