Site icon NTD Indonesia

Propaganda China Meningkat di Youtube, Blogger

Rezim China menggunakan media sosial untuk meningkatkan citra, memfitnah AS dan kelompok-kelompok yang PKC aniaya. Google bertindak menghapus akun-akun ini. Mengapa Partai Komunis China melakukan ini dan seberapa luas penyebarannya? Reporter data kami Kevin Hogan memberi perincian.

[Kevin Hogan, Reporter Data NTD]:

“Partai Komunis China atau PKC punya setidaknya dua tujuan. Pertama untuk menggantikan AS sebagai negara adikuasa terkemuka di dunia dan kedua menganiaya kelompok spiritual di China. Itu alasan mengapa ia menggunakan operasi pengaruh di platform seperti Youtube.

Jadi, kami memiliki data dari badan kepolisian Google, TAG, yang menunjukkan bahwa akun-akun Dragonbridge terkait dengan PKC yang menyebarkan propaganda telah berkembang biak di YouTube. Dan Google telah menutup lebih dari 197.000 akun. Jadi, itu banyak. Itu antara 2022 hingga kuartal pertama tahun ini. Dan ketika Anda menyelami lebih dalam data itu, Anda mulai melihat setiap tahun tren ini meningkat. Misalnya tahun 2022, Google menghapus sekitar 50.000 akun, tetapi jumlah itu meningkat menjadi lebih dari 60.000 pada tahun 2024. Jadi tren itu meningkat.

Kabar baiknya adalah banyak dari akun-akun ini hanya dianggap sebagai akun troll dan tidak mendapat banyak daya tarik, mungkin 100 penayangan atau kurang. Sekarang di saat yang sama, ada penelitian oleh Rutgers yang menunjukkan bahwa YouTube memiliki bias pro-China ketika berhubungan dengan hal-hal seperti penganiayaan yang terjadi di China dan pelanggaran HAM. Dan analis China mengatakan bahwa jenis video tertentu ini, misalnya dari seorang vlogger, mungkin akan dipromosikan oleh YouTube, meskipun vlogger tersebut mengulang kalimat propaganda dari pemimpin rezim saat ini di China.

Anda lihat tahun 2025, hanya pada kuartal pertama, sekitar 20.000 atau lebih akun-akun tersebut telah dihapus oleh Google. Ini akan mencapai rekor jika dibiarkan. Jika Anda melihat lebih jauh data ini, Anda melihat akun-akun Dragonbridge ini mencapai rekor saat ditutup. Akun-akun tersebut telah dihapus dengan jumlah lebih dari 11.000 pada bulan Januari tahun ini. Jadi, itu adalah rekor tertinggi. Menunjukkan bahwa PKC sangat agresif dan menggunakan Youtube dan vlogger untuk menyebarkan akun-akun palsu ini.

Tadi telah disebutkan salah satu tujuan PKC, yaitu menganiaya kelompok spiritual di China. PKC menggunakan YouTube, perusahaan Amerika, untuk mengekspor penindasannya terhadap Falun Gong secara internasional. Falun Gong adalah gerakan spiritual damai yang didasarkan pada nilai-nilai Sejadi, Baik, dan Sabar. Beberapa praktisi Falun Gong ini adalah penari Shen Yun. Ini adalah perusahaan seni pertunjukan yang menunjukkan China sebelum komunisme. Sebagian dari tarian menyoroti penganiayaan terhadap Falun Gong di China. Itulah adalah informasi dari Pusat Informasi Falun Dafa, dimana seorang whistleblower berkata PKC menargetkan Shen Yun karena mengungkap penganiayaan tersebut.  

Jadi itulah salah satu cara PKC menggunakan YouTube, dengan akun-akun propaganda palsu ini. Namun itu belum semuanya. Ada pendekatan yang lebih canggih, di mana PKC mencari influencer mapan, orang Barat yang punya banyak pengikut di YouTube dan membayar mereka untuk menyebarkan materi propaganda. Saya akan beri Anda sebuah contoh. Tim Pool, seorang komentator politik AS yang terkemuka, mengatakan bahwa beberapa akun tak dikenal mengirim email padanya dan menawarinya 200 dolar untuk mempromosikan dan membagikan video yang menjelek-jelekkan Falun Gong. Dia tidak mau melakukannya, bahkan berkata, “Apa ini?” Namun, itu hanya menunjukkan bahwa PKC akan menggunakan cara-cara itu untuk mencoba menyebarkan kebohongannya.

Analis China kami, David Zhang, pembawa acara China Insider bersama David Zhang. Dia mengatakan bahwa PKC telah memanipulasi ruang opini publik, khususnya di YouTube dalam dua tiga tahun terakhir, ber fokus menggunakan wajah-wajah orang Barat dan bukan orang China untuk mencoba melegitimasi klaim mereka. Jadi ini sedang terjadi dan sangat penting bagi orang-orang di Blogger dan khususnya YouTube untuk memastikan bahwa konten yang mereka konsumsi tidak diperoleh oleh propagandis bayaran.”