Fokus

Protes RUU Ekstradisi Hong Kong: Pelajaran Bagi Taiwan

Tanggal 12 Juni, Presiden Trump bertemu media di Kantor Oval Gedung Putih, dan ditanyai tentang demonstrasi besar menolak RUU Ekstradisi di Hong Kong. Trump berkata: “Ini adalah demonstrasi terbesar yang pernah saya lihat, benar-benar satu juta orang… Saya berharap pihak Tiongkok dan Hong Kong pada akhirnya akan dapat menyelesaikan masalah ini.”

Pada tanggal 11 Juni, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi mengeluarkan pernyataan yang menyatakan, RUU Ekstradisi Hong Kong membahayakan hubungan 20 tahun antara Amerika Serikat dan Hong Kong. Jika RUU ini disahkan, maka Kongres AS akan menilai ulang apakah Hong Kong masih berdaulat sebagai teritorial otonomi dalam kerangka ‘satu negara dua sistem’.

Tanggal 12 Juni, Perdana Mentri Inggris Teresa May juga berkata bahwa amandemen Hong Kong harus menghormati hak dan kebebasan yang ditetapkan dalam ketentuan tahun 1984.

Mengapa sejumlah besar rakyat Hong Kong berani protes mempertaruhkan nyawa mereka pada RUU ini? Seorang komentator berkata, hal ini adalah akibat RUU akan mengizinkan Hong Kong mengekstradisi siapapun yang dianggap ‘buron’ oleh Komunis Tiongkok ke Tiongkok.   

[Doktor Tian Yuan, Komentator Masalah Terkini di AS]:
“Misalnya pemerintah Tiongkok minta Hong Kong menyerahkan orang yang dianggap buron oleh Partai Komunis Tiongkok, maka orang yang sudah ditetapkan sebagai buron ini akan diserahkan dari Hong Kong ke daratan Tiongkok. Padahal Partai Komunis Tiongkok adalah rejim yang tidak memiliki HAM dan aturan hukum, justru terkenal dengan penyiksaan dan pengambilan organ manusia hidup hidup.”

Tian Yuan berkata, dibawah situasi ini, siapapun yang tidak disukai Komunis Tiongkok, seperti para pembangkang, reporter asing, pengusaha asing, dll, dapat diekstradisi dan dipenjara di Tiongkok. 

[Doktor Tian Yuan, Komentator Masalah Terkini di AS]:
“Poin sensitif lainnya: sebelumnya, wilayah yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong, saat mengajukan permintaan ekstradisi, harus secara eksplisit disetujui oleh Dewan Legislatif Hong Kong, setidaknya ada satu mekanisme sensor. Sekarang peraturan ekstradisi baru mengatakan, keputusan buron diekstradisi atau tidak, cukup diputuskan oleh Kepala Eksekutif Hong Kong saja.”

Tanggal 9 Juni, warga Hong Kong yang turun ke jalan memprotes RUU mencapai 1,3 juta orang. Tindakan ini didukung oleh 29 kota di 12 negara di seluruh dunia. Namun, Pemerintah Hong Kong masih bersikeras, dan mengumumkan akan diadakan tinjauan ulang di Dewan Legislatif tanggal 12. Hal ini menyebabkan sejumlah besar pendemo mengerubungi gedung luar Dewan Legislatif. Para pendemo itu dibubarkan polisi dengan gas air mata, semprotan merica, dan lain-lain, hingga melukai lebih dari 70 orang.

Wang Dingyu, seorang anggota legislatif dari Partai Progresif Demokratik Taiwan mengatakan, saat penyerahan Hong Kong dari Inggris ke Beijing, kehidupan dan kebebasan mereka dijamin tidak akan berubah, namun dalam beberapa tahun terakhir pendekatan Komunis Tiongkok semakin keras terhadap Hong Kong.

[Wang Dingyu, Anggota Legislatif Partai Progresif Demokratik Taiwan]:
“Ketidakpuasan orang Hong Kong, membuat warga yang dulunya tidak peduli politik, menjadi warga yang tahu kalau politik telah mempengaruhi seluruh kehidupan Hong Kong termasuk ekonomi. Jadi ketika jumlah orang yang mampu bertindak ternyata hampir seperlima dari mereka yang keluar, ini adalah peringatan besar, yaitu alarm kegagalan ‘satu negara dua sistem’nya Tiongkok terhadap Hong Kong.”

Wang Dingyu berkata, kejadian ini juga mengingatkan pemerintah dan masyarakat Taiwan bahwa: Hong Kong hari ini, sangat mungkin adalah hari esoknya Taiwan.

[Wang Dingyu, Anggota Legislatif Partai Progresif Demokratik Taiwan]:
“Banyak orang Hong Kong berimigrasi ke Taiwan, mereka semua menyatakan kekhawatiran pada kampung halamannya. Hal ini juga akan menjadi hardikan tongkat bagi orang Taiwan yang pro dengan komunis, tak peduli itu Guomintang atau partai politik yang lain. Bagi Taiwan, mempertahankan Taiwan sebagai pemerintah yang bebas demokrasi, mempertahankan Taiwan sebagai rezim yang tidak dekat dengan Partai Komunis Tiongkok, merupakan dukungan terbesar bagi rakyat Hong Kong.

Menurut Wang, asalkan demokrasi Taiwan tetap eksis, maka rakyat Hong Kong akan tetap mempunya secercah harapan. (ntdtv/ljy/lia)