Fokus

Ratusan Investor Tiongkok Berunjuk Rasa Menuntut Pengembalian Uang

Investor yang tidak puas dari pengembang properti terbesar ke-2 Tiongkok, Evergrande, memprotes, menuntut uang mereka kembali.

Hampir 300 perusahaan real estate dilaporkan mengajukan kebangkrutan tahun ini.

Jika Evergrande bergabung dalam daftar, itu bisa mengirim gelombang kejut ke seluruh ekonomi Tiongkok.

Adegan kacau di markas besar Grup Evergrande Tiongkok.

Sekitar 100 investor memadati lobi pada hari Senin, meneriakkan “Kembalikan uang kami.”

Evergrande, yang pernah menjadi pengembang properti terbesar di Tiongkok, juga merupakan pengembang properti yang paling terbebani utang menurut New York Times.

Kini, banyak investor dan pembeli yang mengungkapkan kekesalannya.

“Kami menjual semua yang kami miliki, kedua apartemen itu, sehingga kami dapat membeli properti dengan Evergrande, karena Anda.”

“Saya mengharapkan puluhan juta yuan, tapi saya bahkan belum menerima faktur. Ini sudah berlangsung sejak Mei.”

Du Liang, manajer umum divisi manajemen kekayaan Evergrande, dilaporkan tetap berada di lobi semalaman, dengan pengunjuk rasa bergiliran menyampaikan keluhan mereka.

Perusahaan memiliki kewajiban lebih dari $300 miliar (Rp. 4,275 T).

Jumlah yang lebih tinggi dari PDB Finlandia pada tahun 2020.

Hutang ini sebagian merupakan hasil dari model bisnis Evergrande yang sangat berisiko.

Perusahaan akan meminjam pinjaman untuk membeli tanah, kemudian mengembangkan dan menjual rumah dengan margin yang lebih rendah untuk perputaran cepat.

Evergrande telah menggunakan alat bantu hidup selama berbulan-bulan.

Tapi kali ini, Beijing tidak turun tangan.

Regulator Tiongkok ingin memperbaiki kebiasaan buruk sektor properti, yakni meminjam terlalu banyak.

Dan dengan tindakan keras Tiongkok yang mengalihkan fokusnya ke pasar real estat, hampir 300 perusahaan real estat menyatakan kebangkrutan tahun ini, itu menurut media berita Tiongkok, “The Time weekly.”

Evergrande berutang ke investor asing lebih dari $7 miliar (Rp 99 T) dalam pembayaran obligasi hanya untuk tahun depan.

Sekarang George Soros memperingatkan bahwa gagal bayar Evergrande dapat menyebabkan ekonomi Tiongkok runtuh.

Raksasa fintech Tiongkok Alipay sedang akan melakukan restrukturisasi besar.

Itu, di tengah tindakan keras sektor bisnis yang sedang berlangsung oleh regulator negara tersebut.

Perusahaan teknologi Tiongkok itu adalah platform pembayaran seluler dan pihak ketiga, mirip dengan Paypal yang berbasis di AS.

Dan kini memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif tahunan.

Tapi Beijing ingin menghentikannya.

Alipay dimiliki oleh pengusaha dan investor Tiongkok Jack Ma, dan perusahaannya Ant Group.

Itu adalah afiliasi dari raksasa e-shopping Tiongkok, Alibaba.

Menurut laporan hari Minggu dari Financial Times,

Beijing ingin membuat aplikasi terpisah untuk bisnis pinjaman menguntungkan Ant Group, memisahkannya dari platform utama.

Itu setelah otoritas Tiongkok memerintahkan Ant Group, untuk memisahkan diri dari dua unit pinjaman utamanya, pada bulan April.

Satu disebut ‘Huabei’, yang berfungsi sebagai kartu kredit virtual untuk pengguna Alipay, dan yang lainnya disebut ‘Jiebei’, layanan pinjaman kecil digital yang diluncurkan oleh perusahaan itu pada tahun 2015.

Dua orang dalam, memberi tahu Financial Times bahwa Ant Group juga harus menyerahkan data penggunanya kepada perusahaan penilaian kredit, yang sebagian dimiliki negara.

Tiga sumber juga mengatakan kepada Reuters bahwa ini adalah pertama kalinya perusahaan yang didukung negara mengambil saham besar dalam usaha patungan skor kredit Ant Group.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

VIDEO REKOMENDASI