Rusia mengklaim telah berhasil menguji rudal jelajah bertenaga nuklirnya pada hari Minggu. Rudal dilaporkan menempuh jarak lebih dari 8.700 mil dalam 15 jam, hingga kota-kota besar di AS berada dalam jangkauan. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebutnya tak terkalahkan. Ia mengklaim rudal dapat menghindari sistem pertahanan rudal apa pun, yang ada saat ini maupun di masa depan.
Namun, para analis militer skeptis tentang efektivitasnya. Mereka menunjuk pada kecepatan subsonik rudal dan visibilitas radar, yang mungkin lebih ke simbolis daripada strategis.
Sebuah misil meledak pada 2019, menewaskan tujuh orang dan meningkatkan radiasi. Para analis menyebutnya manuver politik, karena Putin khawatir akan kemungkinan ditempatkannya rudal tomahawk AS di Ukraina.
AS pernah meninggalkan program rudal nuklir pada tahun 1950-an, tapi dengan Trump memerintahkan kembalinya uji coba senjata nuklir, Amerika dapat kembali ke perlombaan senjata dengan Rusia dan China. J
ubir Kremlin Dmitry Peskov menanggapi, mengatakan uji coba rudal baru-baru ini tidak memenuhi syarat sebagai uji coba ledakan nuklir.

