China memimpin dalam jumlah kapal, tetapi keunggulan Angkatan Laut AS terletak pada jangkauan global, kapal induk bertenaga nuklir, dan pengalaman tempur yang mendalam. Seiring meningkatnya ketegangan di Indo-Pasifik, termasuk Selat Taiwan, kedua angkatan laut berlomba untuk beradaptasi. Namun dibandingkan dengan China, infrastruktur angkatan laut dan kemampuan logistik Amerika tetap tak tertandingi. Berikut tinjauan detail tentang perbandingan AS dan China di laut.
Dalam hal kapal induk, Amerika Serikat masih unggul dengan selisih yang lebar. Angkatan Laut AS mengoperasikan 11 kapal induk super bertenaga nuklir, yang masing-masing mampu meluncurkan berbagai macam pesawat dengan kecepatan, daya tahan, dan daya tembak di mana pun di dunia. China, sebaliknya, memiliki tiga kapal induk, semuanya bertenaga konvensional, dengan hanya kapal induk terbarunya, yang disebut Fujian, yang menggunakan sistem peluncur ketapel modern. Namun, Angkatan Laut China masih tertinggal dalam hal jangkauan serang, kapasitas pesawat, dan operasi kompleks yang dibutuhkan untuk mempertahankan kapal induk dalam misi jangka panjang.
China kini memiliki angkatan laut terbesar di dunia, setidaknya berdasarkan jumlah kapal. Pada tahun 2025, Beijing mengklaim memiliki 370 kapal perang dibandingkan dengan 296 milik Angkatan Laut AS.
Namun, lebih besar tidak selalu berarti lebih kuat. AS mengandalkan kapal selam bertenaga nuklir yang lebih cepat, lebih siluman, dan mampu bertahan lebih lama di laut. China memiliki lebih banyak kapal selam diesel-listrik, yang lebih cocok untuk pertahanan pesisir dan operasi regional.
Ujian sesungguhnya bagi kekuatan angkatan laut bukan hanya jumlah. Melainkan seberapa baik Anda bertempur, berkoordinasi, dan memastikan kapal-kapal tersebut terpasok. Di situlah AS memegang keunggulan krusial: logistik global, sensor canggih, dan puluhan tahun pengalaman dalam mengoordinasikan operasi Angkatan Laut skala besar.
China berkembang pesat, namun masih menghadapi kendala dalam hal komando, kendali, pemeliharaan, dan operasi jarak jauh. Seiring meningkatnya ketegangan di Pasifik Barat, terutama di sekitar Taiwan dan Laut Cina Selatan, kedekatan China memberikan keuntungan.
Namun, Angkatan Laut AS juga beradaptasi. berinvestasi dalam kendaraan permukaan dan bawah air nir-awak, distribusi kekuatan yang lebih cerdas, dan mengatasi kendala berbasis industri sambil meningkatkan pembangunan kapal.
