Fokus

Sikap Ketiga Capres Terhadap China: Wawancara dengan Ketua FSI

Tiga calon presiden Indonesia yang sedang bersaing dalam kontestasi Pilpres 2024, diperkirakan tidak ada yang berani bersikap tegas terhadap China. Mereka ingin bermain aman, melanjutkan kerjasama dengan China yang sudah dibina dengan baik oleh Presiden Joko Widodo. Ketergantungan Indonesia secara ekonomi pada China dengan proyek Belt & Road Initiative-nya, dan adanya kedekatan anggota tim pemenangannya dengan China membuat mereka bersikap lunak. Hal itu disampaikan oleh Dosen Universitas Pelita Harapan Johanes Herlijanto Ph.D usai diskusi akhir tahun berjudul ‘China, Asia Tenggara, dan Indonesia: Perkembangan 2023’ yang diselenggarakan oleh Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta pada 28 Desember 2023. Kepada wartawan kami, Ketua FSI Johanes Herlijanto menjelaskan panjang lebar tentang sikap para capres terhadap China.

Bagaimana Anda melihat sikap para capres kita terhadap kebijakan luar negeri pemerintah kita selama ini cenderung sangat dekat dengan China?

[Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia]

“Kalau kita melihat capres maka tentu mungkin tinggal pertanyaannya pada capres nomer 3 dan nomer 1. Karena nomer 2 ini dengan adanya mas Gibran disitu sangat mungkin, apalagi nomer 2 sudah komitmen untuk meneruskan apa yg dikerjakan pak Jokowi.

Dalam konteks kedekatan dengan Tiongkok, atau China, saya pikir, pandangan saya kelihatannya nomer 2 itu akan tetap seperti ini. Sejauh memang mereka konsisten melanjutkan apa yang dikerjakan Jokowi. Betul-betul konsisten melanjutkan semuanya, dan ini tidak ada perubahan, tentu apa yang dilakukan punya suatu akomodasi terhadap masuknya modal-modal dari Tiongkok, masuknya investasi dari Tiongkok, skema belt & road initiative dsb. Sehingga dalam pandangan saya untuk yg ini akan bisa dilanjutkan oleh Prabowo-Gibran. Apalagi masih ingat kita, sempat terjadi pak Prabowo dinarasikan seolah-olah melakukan statemen bersama dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, yang kemudian kurang menyenangkan dari pihak Tiongkok. Kemudian pak Prabowo melakukan ralat. Ini kan memperlihatkan bahwa kedekatan dengan Tiongkok mungkin tetap berlangsung, dalam pandangan yg saya lihat. Meskipun saya lihat latar belakang Pak Prabowo dari seorang militer. Tentu persoalan2 yang terkait dengan kapal penjaga pantai Tiongkok di Natuna misalnya atau ZEE, mungkin itu akan menjadi isu yg juga tetap menganggu yah. Tapi dalam konteks ekonomi saya yakin atau saya duga ini akan tetap berlangsung.”

Bagaimana dengan Ganjar Pranowo, apakah sikapnya akan seperti Paslon 02?

[Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia]

“Untuk mas Ganjar-Mahfud, sebetulnya kalau kita lihat yah tanpa menyebut, ada orang-orang dekat dari pak Ganjar yang memiliki kedekatan dengan Tiongkok, atau orang-orang yg berada pada tim layer sehingga akhirnya menurut pandangan saya, kehadiran, kelanjutan investasi dari Tiongkok, kedekatan ekonomi ini akan tetap berlangsung. Kalau kita ingat misalnya ketika bicara di suatu universitas, lalu ada pertanyaan terkait adanya kehadiran tenaga kerja asing (China) kan pak Ganjar juga menyampaikan pandangan bahwa kelihatan dia sangat akomodatif terhadap masuknya tenaga

kerja dari Tiongkok, begitu yah. Kemudian dikatakan kalau dari Indonesia ada yg bisa gantikan akan distop saat ini juga. Tapi itu kan artinya sebelum ada tenaga kerja yg menggantikan berarti ada akomodasi. Kalau saya melihat mungkin akan tetap ada hubungan yang tidak terlalu berbeda dengan yang sekarang. Ini pandangan saya yah. Sama dengan pak Prabowo tadi. Problemnya akan muncul ketika Tiongkok kemudian melakukan aktivitas yang mungkin bersinggungan dengan kedaulatan kita di Natuna.”

Apakah pasangan Anies-Muhaimin yang mengusung visi perubahan akan bersikap berbeda?

[Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia]

“Yang saya belum memahami dan meraba-raba justru pada 01 pak Anies yah. Kita lihat mungkin orang-orang yang dekat dengan Tiongkok ada disitu. Tapi sejauh mana nanti pak Anies yg sudah menjanjikan suatu perubahan, kemudian tetap melanjutkan kedekatan hubungan dengan Tiongkok gitu , atau justru dia akan setidaknya rnengurangi. Ini yg saya belum terlihat.

Apakah dengan demikian para capres ini sedang bermain aman terkait sikapnya terhadap China?

[Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia]

“Ya sepertinya seperti itu, mungkin karena hubungan ekonomi ini dianggap sebagai suatu faktor yang menentukan, karena bicara tentang ekonomi kan bicara soal dunia usaha. Sementara dari Tiongkok, dari China ini lumayan besar (uang) yang masuk.”

Ada yang bilang, secara ekonomi kita membutuhkan China dan secara keamanan atau pertahanan kita membutuhkan Amerika Serikat?

[Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia]

“Sebetulnya kan kalau kita lihat untuk pertahanan Indonesia juga punya seri latihan perang dengan Tiongkok. Walaupun belakangan yg dijalankan dengan Amerika Serikat dan dengan beberapa negara Barat. Garuda dan seterusnya. Saya pikir mungkin, saya tidak melihat Indonesia kemudian punya kerjasama pertahanan dalam konteks yg kemudian patroli bersama, lebih pada action gitu yah dengan Barat, dengan Amerika. Mungkin yg dilakukan, sejauh ini yg saya lihat pada penguatan yah, ada dengan Jepang juga, dengan Amerika juga untuk melakukan penguatan menjaga pantai kita. Kalau tidak salah seperti itu, saya pikir ada juga center buat pelatihan penjaga pantai. Saya kira ini, itu yg terjadi yah. Dan saya pikir, memang saya berpendapat bahwa tidak ada buruknya. Untuk kemudian dapat dukungan dari kekuatan-kekuatan … di luar Tiongkok untuk memperkuat kapasitas awal kita dalam bidang pertahanan maupun dalam bidang penegakan hukum. Dalam hal ini penegakan hukum dalam perairan yg menjadi hak kedaulatan kita.”

Selama ini kita dianggap lemah dalam menghadapi China dalam kasus Kepulauan Natuna Utara?

[Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia]

‘Sebenarnya saya melihatnya sudah cukup lumayan yah. Paling tidak kalau kita melihat pak Jokowi pada beberapa kali memperlihatkan secara simbolik bahwa dia memperhatikan Natuna, dia hadir

kalau gak salah dua kali. Tahun 2016 dan 2019/2020, dia muncul.lagi disitu. Saya pikir sudah memperlihatkan itu, tetapi memang seharusnya justru kita menunjukan bahwa dalam konteks ekonomi bisa saja memilih kedekatan tetapi kedekatan ekonomi ini tidak boleh kemudian mbuat dari pihak lain termasuk China, lalu kemudian bisa berbuat seenak mereka, gitu kan. Mendikte kita dsb. Walaupun ada, kalaupun misalnya muncul kejadian, dan itu sampe terekspos di media, saya kira selalu baik dari pihak masyarakat Indonesia maupun pihak pemerintah, mau tidak mau dipaksa untuk menyampaikan suatu statement gitu. Jadi mudah-mudahin sih kita tetap mempertahankan yg seperti itu yah.’

Di forum-forum internasional seperti di PBB, sikap kita cenderung mendukung China misalnya dalam kasus genosida muslim Uighur di Xinjiang?

[Johanes Herlijanto, Ketua Forum Sinologi Indonesia]

“Saya kira dalam banyak hal Indonesia mau tidak mau terlihat dekat dengan China khususnya dalam (kasus) Uighur tadi yah, kita kalau tidak salah menolak yah, tetapi abstain pun tidak, itu tentu kementrian Luar Negeri kita punya perhitungan2 tertentu. Tapi memang ini memperlihatkan bahwa ada suatu kondisi dimana kita ingin terlihat tidak menyinggung China.

Lebih banyak artikel Fokus, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.

Saksikan Shen Yun via streaming di Shen Yun Creations

VIDEO REKOMENDASI