Momen kritis di kota Chongqing, China selatan, pada hari Rabu. Sebuah taksi robot jatuh ke dalam lubang konstruksi di dekat lokasi kerja. Penumpangnya diselamatkan oleh orang-orang di lokasi setempat dengan tangga. Media lokal berkata ia tidak terluka, tetapi ini bukanlah yang pertama kalinya. Taksi robotik telah didorong oleh China untuk mendunia. Teknologi ini menimbulkan kekhawatiran tentang risiko keamanan.
Taksi ini adalah bagian dari jaringan besar yang dijalankan oleh raksasa teknologi China Baidu, dikenal sebagai Taksi Robot Apollo Go. Dalam beberapa minggu terakhir taksi telah bermitra dengan Uber dan Lyft, dua perusahaan taksi online terkemuka dunia. Pendiri Baidu berkata tujuannya adalah untuk mempromosikan taksi robotik di seluruh dunia. Dimulai di Asia dan Timur Tengah, Baidu berkata lebih dari seribu taksi Apollo Go telah hadir di 15 kota. Target berikutnya adalah Eropa.
Baidu berencana meluncurkan ribuan taksi robot di Jerman dan Inggris tahun depan. Namun, tahun lalu laporan media mengungkapkan bahwa basis data Baidu menjadi sangat berharga bagi militer China. Laporan tersebut mengutip sebuah penelitian yang merinci bagaimana divisi perang siber militer menguji chatbot AI Baidu yang disebut Ernie. Jenis uji cobanya? Membuat simulasi rencana perang bagi pasukan Libia untuk mengalahkan militer AS.
Bagaimana ini terkait dengan taksi robot? Kantor berita Xinhua mengungkapkan pada tahun 2023 bahwa taksi Apollo merekam lingkungan sekitar dalam 360 derajat dan dapat dikendalikan jarak jauh. Jika taksi robot ini beroperasi di jalan-jalan di berbagai negara, ini akan dapat menjadi mata-mata Beijing.
Pemerintahan Biden telah melarang penjualan atau impor kendaraan pintar yang dilengkapi teknologi tertentu dari China dan Rusia atas alasan keamanan nasional. Aturan tersebut mulai berlaku pada bulan Maret dan melarang mobil robot China beroperasi di wilayah AS.

