Fokus

Tanah Jarang China Masih Tersendat, Picu AS Buat Kesepakatan dengan Kongo

Ancaman penutupan massal industri otomotif mulai mereda. Magnet tanah jarang China akhirnya mencapai produsen mobil dan pemasok di seluruh dunia. Namun, produsen mobil memperingatkan risiko kekurangan masih jauh dari selesai.

Data baru menunjukkan pengiriman dari China meningkat. Kelompok pemasok Eropa berkata persetujuan pengiriman telah meningkat dari 25% ke 60%, tetapi pesanan AS masih ditunda karena dianggap prioritas rendah. Pada hari Jumat, CEO Ford mengatakan perusahaan harus menutup pabrik dalam beberapa minggu terakhir karena kekurangan magnet.

China telah membatasi ekspor tanah jarang ke AS sejak April sebagai tanggapan atas tarif ekspor Beijing. Sejak itu, pengiriman magnet tanah jarang ke AS telah turun sekitar 75%. Hal ini telah memaksa produsen mobil untuk menghentikan produksi tidak hanya di AS tetapi juga di seluruh Asia dan Eropa.

Sebagai tanggapan, AS pun berusaha mengamankan pasokannya sendiri. Hari Jumat, Washington membuat kesepakatan dengan Kongo dan Rwanda untuk meningkatkan stabilitas dan akses ke mineral penting, yang akan mendatangkan investasi miliaran dolar ke wilayah tersebut.

Kongo adalah rumah bagi deposit kobalt dan emas terbesar dunia. Kongo memproduksi sekitar 70% kobalt global tahun lalu, yang adalah bahan baku bagi baterai isi ulang smartphone, kendaraan listrik dan perangkat lainnya. Namun, permintaan akan mineral-mineral ini juga telah memicu perang selama puluhan tahun disana.

Saat ini, berbagai perusahaan China mengendalikan sekitar 80% produksi kobalt di Kongo, yang meyebabkan dunia bergantung pada pemasok China.

Di masa lalu, ketidakstabilan membuat perusahaan pertambangan AS menjauh dari kawasan tersebut. Namun, pemerintahan Trump ingin mengakhiri konflik atas mineral dan mendatangkan lebih banyak investasi Amerika ke kawasan tersebut. Kesepakatan AS-Kongo ini dipandang sebagai langkah pertama menuju tujuan tersebut.