Fokus

Terkait COVID-19, Kini Tiongkok Mengajak AS untuk Bekerja Sama

Setelah berbulan-bulan menyerang AS, kini rejim Tiongkok menyerukan untuk bekerja sama.

Seorang pembelot dan mantan diplomat Tiongkok, berbicara dengan NTD, perihal diplomasi dua muka dari rejim Tiongkok.

“New York adalah kota Amerika favorit saya.” Itu adalah kalimat pertama dari duta besar Tiongkok untuk AS, Cui Tiankai dalam artikel op-ed nya di The New York Times, yang dipublikasikan pada hari Minggu.

Berlawanan dengan tuduhan agresif yang dibuat lebih awal oleh para pejabat Tiongkok. Cui menyerukan agar Tiongkok dan AS bekerja sama melawan virus.

Belum lama ini Tiongkok telah mendonasikan 1.000 ventilator ke New York.

100 sarjana Tiongkok menulis sebuah surat terbuka minggu lalu, meminta AS dan Tiongkok untuk bekerja sama, mengatakan bahwa mempolitisir kritikan tidak akan membantu siapapun. Pesan solidaritas ini, tampak bertentangan dengan pernyataan rejim sebelumnya.

Namun Chen Yonglin, seorang pembelot dan mantan diplomat Tiongkok memberi tahu kami, bahwa ini adalah taktik umum dari partai komunis.

Chen mengatakan bahwa partai komunis mengirim pesan bersahabat, bukan karena mereka telah berubah, atau menyadari kesalahan mereka. Namun adalah untuk menghindari pembalasan atas provokasi mereka sebelumnya.

Chen: “Kami menyebutnya, ‘menggenggam dengan kedua tangan.’ Sebelumnya, ketika saya bekerja di sebuah departemen di kementerian luar negeri, kami selalu menggunakan cara dua tangan untuk berurusan dengan AS. Deng Xiaoping mengatakan bahwa seseorang harus berpura-pura lemah. Anda harus bertarung melawan musuh, namun juga menyerukan untuk bekerja sama. Anda harus mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi, dan terus menerus mengubah strategi sesuai situasi.”

Rejim telah membentuk propaganda, mengklaim bahwa virus dibawa ke Tiongkok oleh militer AS. Pernyataan tersebut menimbulkan balasan besar dari Barat. Presiden Trump menggunakan sebutan virus Tiongkok, beberapa kali, untuk menekankan tempat asal pandemi.

Chen: “Kadang PKT merasa bahwa situasi telah berubah dan merugikan mereka, jadi mereka akan berbalik dan kembali tampak bersahabat. Mereka paham bahwa saat ini negara-negara Barat sangat kekurangan masker, jika mereka bisa membuat negara negara tersebut bergantung pada Tiongkok, hal itu akan menjadi kesempatan bagi rejim Tiongkok untuk membalik situasi yang tidak menguntungkan dan memperluas pengaruh mereka.”

Seruan untuk bekerja sama ini, juga telah mencapai para ahli di AS, minggu lalu, hampir 100 orang ahli AS, termasuk mantan pejabat Obama dan Bush, menulis sebuah surat terbuka, menyerukan pada Trump untuk fokus menemukan solusi untuk bekerja sama dengan Tiongkok.

Sementara itu, rejim Tiongkok tidak berhenti dalam propaganda domestiknya. Sebuah media berita di Tiongkok, Sohu, memposting sebuah artikel pada hari Senin, mengklaim, “Walaupun saat ini tidak ada bukti bahwa AS telah membuat dan melepaskan virus, adalah normal bagi orang-orang untuk memiliki kecurigaan semacam itu.”

Selama 2 bulan, sejak wabah dimulai, rejim Tiongkok telah berulangkali menolak tawaran CDC untuk mengirim para ahli Amerika,untuk membantu mengobservasi wabah.

Bulan lalu, rejim Tiongkok mengusir jurnalis Amerika dari 3 media besar. Seorang ahli menyebutnya, sebagai satu tingkat di bawah menutup kedutaan.

Lebih banyak berita tentang wabah pneumonia akibat infeksi COVID-19 dari Wuhan, silahkan klik di sini. Video, silahkan klik di sini.