Krisis demografis China terus memburuk akibat stimulus Beijing gagal membalikkan keadaan. Data resmi hari Senin menunjukkan populasi negara itu telah menyusut untuk tahun keempat berturut-turut. Tingkat kelahiran turun ke level terendah sejak Partai Komunis China berkuasa pada 1949.
Menurut data resmi Beijing, kurang dari 8 juta bayi lahir tahun lalu, sekitar 1,5 juta lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Beberapa pakar China berkata situasi bisa jauh lebih buruk mengingat sejarah rezim dalam memalsukan data.
Untuk menjelaskannya, hanya sekitar lima hingga enam bayi yang lahir tahun lalu untuk setiap 1,000 orang di China. Di sisi lain, jumlah kematian jauh lebih tinggi dari jumlah kelahiran. Populasi negara semakin menurun, dan semakin sedikit warga China yang mau menikah.
Di China, lahir di luar nikah masih sangat jarang. Pada 2024, jumlah pernikahan baru di China turun ke titik terendah dalam sejarah, yaitu sebesar 20%. Para analis berkata ini akibat tingginya pengangguran kaum muda di China, meningkatnya biaya hidup serta tekanan sosial. Sekarang, populasi China yang menua dan menyusut semakin memperlambat perekonomian.
Krisis demografi membawa implikasi besar, termasuk menyusutnya angkatan kerja dan penurunan konsumsi domestik. Ini bahkan dapat mempengaruhi apakah militer China punya cukup pria dewasa untuk direkrut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah memperkenalkan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran. Misalnya pajak yang lebih tinggi untuk alat kontrasepsi, perpanjangan cuti orang tua, dan insentif tunai selamai tiga tahun sekitar 500 dolar per tahun untuk anak-anak yang lahir setelah 1 Januari 2025.

